Ambang Batas 2 Newtype

Novel by Ten Lite Novel

Bagian 3

Gwen Kirana terus cemberut sejak ia pergi meninggalkan apartemen, tiba di bandara, terbang, hingga mendarat di kota Hero. Baik Gwen maupun beberapa agen juga pasti merasakan hal yang sama.
Meski di depan atasan mereka selalu mengatakan ‘siap’ sebagai suatu pengabdian, perasaan mereka kadang kala justru berkata sebaliknya. Terlebih lagi tidak ada kepastian pada kepindahannya kali ini, ibarat dipindah tugaskan tanpa batas waktu yang ditentukan.

Bahkan ekspresinya tetap sama sesampainya di area apartemen. Bangunan lima lantai tersebut nampak sederhana, tidak semewah miliknya di kota Batavia.

“Hah, aku lelah. Masalahku semakin bertambah.”

Ia merasa butuh minuman keras sekarang.

Di area yang sama, seorang penjual pentol kelilin melihat adanya calon pelanggan.

“Mbak, mau beli pentol?”

“Pentol?!” Gwen menoleh dengan terkejut. “Aku ingat sekarang. Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting ini.”

Penjual pentol keliling hanya memerhatikan. Gwen nampak jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya.

“Kota ini masih banyak makanan tradisionalnya. Bukankah berarti aku bisa berburu kuliner sepuasnya?”

“Mbak, mau beli pentol nggak?”

“Tentu saja.” Gwen menjawab dengan penuh semangat. “Pesan yang banyak ya, pak. Terus kasih bumbu yang paling pedas.”

Penjual pentol keliling mulai memindahkan pentol ke dalam kantong plastik. Gwen terus memerhatikan dengan tidak sabar. Dibandingkan dengan makanan di kotanya yang terbuat dari kumpulan protein, makanan berlemak di luar kota jauh memanjakan lidah. Namun perbedaan inilah yang membuat warga kota Batavia nampak dewasa lebih cepat. Gwen yang masih berusia 17 tahun saja nampak seperti wanita dewasa yang sudah berumur 23 tahun.

Setelah membayarnya, ia mulai melanjutkan perjalanannya ke kamar apartemen.

“Astaga, rasanya enak sekali! Andai saja kota Batavia memiliki makanan semacam ini.”

Gwen seolah lupa dengan kesedihannya sendiri. Senyum riangnya terus mengembang setiap kali dirinya menyantap makanan tersebut. Andai saja ia bisa melakukan hal itu di kota Batavia, ia berjanji tidak akan menghabiskan waktunya di klub malam.

“Sampai.”

Gwen berdiri di depan pintu apartemen lantai tiga. Kunci apartemen diletakkan di atas meteran listrik.

“Aneh sekali, harusnya ada yang menjemputku, kan?” Gwen memiringkan kepalanya sembari berpikir.

Setelah itu ia mulai membuka pintu apartemen dan memeriksa seisi ruangan. Semua perabotan lengkap meski ia bakal jarang menggunakan alat masak. Di atas tempat tidurnya, ada sebuah surah dengan seperangkat gawai.

“Nanti jam 12 tengah malam aku akan menemuimu di area taman. Demi keamanan, sebaiknya kamu mematikan Nebula Gear setelah membaca peringatanku ini sebelum membuka lembar berikutnya, eh?”

Gwen nampak bertanya-tanya soal itu. Jika Nebula Gear dimatikan semua data tidak akan tersimpan. Sebagai seorang agen, tentunya ia memiliki hak akses untuk mematikan Nebula Gear.

“Tapi …” Meski ragu, Gwen menaruh tangannya di belakang leher, lalu menekan. “Matikan processor.”

Gwen menghembuskan napas. Semua layar bantu yang ada di pandangan Gwen mulai memudar.

Ia kembali melanjutkan suratnya.

“Jika halaman ini terbuka, maka sudah dipastikan kalau Nebula Gear-mu telah dinonaktifkan. Jika belum makan ini adalah peringatan pertama untukmu, wahai agen bebal.”

Alis mata terangkat. “Surat macam ini?!”

Lalu ia melanjutkan pada lembar ketiga.

“Yakin sudah dimatikan?” Gwen tidak menghiraukan lembar ketiga lalu membuka lembar ke empat, kelima, dan ke enam. “Surat isinya sampah semua!”

Pada lembar ke tujuh, akhirnya isi suratnya berlanjut.

“Jika kau marah, maka aku sudah berhasil mengusili dirimu. Perkenalkan, namaku agen Februari, biasa dipanggil Febri tapi kamu boleh menambahkan ‘imoet’ jika bertemu langsung denganku-itu tidak mungkin, dasar sampah!” Gwen melanjutkan membaca. “Karena adanya situasi yang mendadak, aku terpaksa memintamu mematikan Nebula Gear. Tengah malam nanti temui aku di area taman.
Tertanda Febri imoet-Sampah!! Kenapa ada orang semacam itu di sini?!”

Gwen segera melahap pentol pedas yang baru dibelinya demi menahan emosi.


Jam 12 tengah malam. Hawa dingin. Di sebuah taman.
Gwen Kirana bersin sebanyak tiga kali. Dengan kaos lengan panjang, ia duduk di sebuah kursi seorang diri. Ia sempat berjalan mengelilingi apartemen namun yang bisa disebut taman hanyalah tempat ini semata, yaitu taman bermain anak-anak. Waktu sudah lewat lima belas menit, tapi yang ia lihat hanyalah ayunan dan perosotan. Hanya ada suara angin. Tidak ada seorangpun.

“Yang benar saja.” Gwen memandang gawai barunya sambil berharap layarnya akan menyala karena ada panggilan. “Apakah dia akan menelpon lalu berkata: maaf aku sedang ada urusan, pertemuan kita batalkan saja. Jika itu sampai terjadi, saya berjanji tidak akan memaafkan hal tersebut.”

Tubuh menggigil. Mata mengantuk. Gwen bisa saja naik darah sewaktu-waktu. Terlebih lagi kemarin ia mendapatkan makan malam yang buruk.

“Dasar sialan!” umpatnya tiba-tiba.

“Siapa yang sialan?” tanya suara semi robotik.

“Heh?” Gwen menoleh ke ke sumber suara.

“Selamat malam,” sapa suara semi robotik.

Dengan mata malas Gwen bertanya, “Sejak kapan kau ada di sini?”

“Sejak kamu mengataiku sialan.”

“Kupikir kita akan bertemu dalam busana kasual.”

“Aku tidak pernah berkata seperti itu. Lagipula aku perlu menjaga privasi agar kehidupan pribadiku tidak terganggu. Oh iya. Bagaimana perjalanannya kemarin siang? Menyenangkan? Kamu tidak mabuk udara atau sebagainya, kan? Lalu kamar apartemennya sudah cocok belum? Misalkan-”

“Jangan menyerangku dengan pertanyaan beruntun!”

“Oh, maaf. Jadi bagaimana?”

“Saya ingin kau memahami situasinya sekarang. Mata saya sudah mulai mengantuk. Kau bahkan tidak menjemputku saat di bandara. Menaruh surat usil yang tidak jelas, lalu muncul sambil berkata soal privasi. Singkat kata, saya sedang sebal terhadap dirimu.”

“Galak sekali, sih. Padahal aku bermaksud menghangatkan suasana.”

“Tidak ada yang perlu kau hangatkan, saya mulai mengantuk.”

“Baik-baik, kita langsung saja pada permasalahannya.”

“Setidaknya tunjukkan dirimu padaku, aku merasa tidak nyaman kalau berbicara dengan sosok tak terlihat.”

“Oh, itu tidak masalah … Sepertinya sudah tidak ada seorangpun di sini. Batalkan mode bunglon.”

Sosok agen Februari mulai terlihat. Mata Gwen melebar.

“Dasar pengkhianat!” Gwen menunjuk dua tonjolan agen Februari yang lebih besar darinya.

“Hah? Siapa yang pengkhianat?”

“Apa-apaan tonjolan itu? Apa yang kau lakukan sehingga bisa sebesar itu?! Ini tidak bisa dimaafkan. Kau sudah membuatku tidak nyaman sekarang.”

“Hah? Repot sekali hidupmu ini. Aktifkan mode bunglon. Apa kamu merasa lebih baik sekarang?”

Gwen menoleh ke arah lain sambil menjawab, “Ya lebih baik.”

“Kenapa hal ini selalu terjadi padaku,” gumam agen Februari pelan. “Baiklah, aku akan menjelaskan maksud kedatanganku sekarang. Mungkin kamu belum mengetahui apapun karena langsung dikirim ke kota Hero secara mendadak. Aku memintamu mematikan Nebula Gear karena benda itu tidak aman buatmu.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Aku tidak bisa mengatakannya padamu tapi percayalah padaku.”

“Jadi ini hanya saran pribadimu?”

“Tepat sekali.”

Sorot mata Gwen menajam. Suasana menjadi hening.
Undangan dari agen Februari bisa saja sebuah jebakan. Sebelumnya pernah ada pengkhianatan seorang agen. Lebih buruk lagi, Nebula Gear sedangmati. Andaikata ia dibunuh maka tidak ada rekaman tentang kejadian tersebut. Namun dengan menghidupkannya sekalipun tidak mengubah apapun. Ia bisa terbunuh sebelum menghidupkannya.

“Kamu boleh curiga padaku, tapi semua ini kulakukan untuk menolongmu. Jika aku berniat berkhianat atau membunuhmu, sudah kulakukan sejak tadi, sejak dalam kondisi tak terlihat. Terlebih lagi kamu datang tanpa membawa informasi penting apapun, jadi sandra saja tak pantas.”

“Jangan merendahkan diriku seperti itu! Meski saat ini aku tidak mungkin melawan, meski kau tidak memiliki niat untuk menyerangku dari belakang, kau tetaplah pengkhianat kaum ‘datar’ dan kaum ‘sedang’.”

“Jadi kamu masih menganggapku pengkhianat gara-gara itu?! Dasar bocah rata. Setidaknya ijinkan diriku untuk bercerita terlebih dahulu.”

“Huh!” Gwen membuang muka.

“Meski kita bekerja untuk pihak yang sama, kita tetap memiliki privasi berdasarkan wilayah teritori. Masalah yang tidak bersifat global tidak akan diketahui oleh agen luar wilayah. Kuharap kamu masih ingat akan peraturan itu.”

“… Tentu saja aku ingat.”

Tepatnya, Gwen baru mengingatnya.

“Jadi begini ceritanya, kita semua tau kalau kota Batavia tidak mau menerbangkan satelit Rajawali ke wilayah Jawa Tengah. Semua itu dikarenakan adanyaA kekhawatiran pemerintah. Hingga saat ini kita tidak tau apapun tentang sihir dan batasan-batasannya. Jika pemerintah Jawa Tengah mengetahui wilayahnya sedang dimata-matai, perang besar bisa saja terjadi. Itu hanya berlaku pada Jawa Tengah, bukan di Jawa Timur. Namun kamu harus ingat kalau dulunya wilayah ini juga dihuni oleh penyihir. Meski mereka telah diusir ke Jawa Tengah, tidak menutup kemungkinan beberapa dari mereka masih menetap di sini.”

Gwen mulai memahami maksud perkataan agen Februari dan terus mendengarkan.

“Kejadian ini terjadi sejak setahun yang lalu, satelit Rajawali di beberapa wilayah Jawa Timur hilang tanpa sebab. Tidak ada satupun bukti yang bisa kutemukan untuk menjelaskan semua kejadian ini. Adapun beberapa kemungkinan yang mungkin saja bisa terjadi. Pertama, ini bisa jadi ulah sekelompok penyihir. Lalu yang kedua adalah kemungkinan diretas. Kota Batavia memiliki teknologi yang seratus tahun lebih maju dari pada kota lainnya, ada kemungkinan ini disebabkan oleh teknologi serupa.”

“Maksudmu ada orang Batavia dibalik hilangnya satelit Rajawali?”

“Itu hanya kemungkinan, aku tidak berani memastikan. Tapi mungkin saja hal ini ada hubungannya dengan Nexus. Hilangnya satelit Rajawali sudah setahun yang lalu, sedangkan penyergapan ilegal tentang proyek Nexus baru diketahui kemarin. Namun kita tidak tahu sejak kapan proyek tersebut dilakukan.”

“Sepertinya tidak ada petunjuk lainnya yang bisa mendukung selain ceritamu barusan. Apa boleh buat, saya akan pergi memeriksanya setelah mendapat semua perlengkapan.”

“Ini tidak semudah yang kamu pikirkan, bocah.”

“Namaku Gwen!! Gwen Kirana!!”

“Oh, Gwen Kirana ya? Nama yang cantik. Kamu boleh memanggilku Febri Imo-”

“Tidak akan!!” potong Gwen. “Aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan kotor itu. Jadi cepat lanjutkan ceritamu.”

“Tidak seru. Jadi masalahnya ada pada lokasinya. Lokasi hilangnya ada di kota tua, sebelah barat kota Hero. Tempat yang paling misterius setelah tragedi rantai gerhana belasan tahun yang lalu. Aku tidak bisa membiarkan dirimu pergi ke sana seorang diri karena hal itu sangat beresiko. Jadi kusarankan kamu pergi beberapa hari lagi.”

“Kenapa memangnya?”

“Anggota kepolisian sudah bertahun-tahun melakukan patroli di sana dan tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Entah di sana memang tidak ada apapun atau pelakunya pandai bersembunyi. Setidaknya kamu bisa pergi diwaktu yang bersamaan dengan jadwal patroli pihak kepolisian. Jika terjadi sesuatu padamu, setidaknya kamu bisa mencari pertolongan pada pihak kepolisian. Beberapa dari mereka adalah Extender sehingga bisa kamu andalkan. Namun tetaplah jaga jarak karena Extender memiliki pendengaran tajam.”

Gwen menguap.

“Merepotkan saja. Jadi kapan perlengkapannya kau siapkan?”

“Kamu tidak usah khawatir soal itu, mantan agen di sini akan menyiapkannya untukmu. Besok pagi kau tinggal ingatkan aku melalui SMS untuk mengirimkan alamatnya padamu.”

Gwen berdiri dari tempat duduk. Penuh emosi dan jengkel.

“Kenapa juga aku harus mengingatkan dirimu?! Kirim alamatnya sekarang juga!”

“Aku sedang tidak membawa gawai sekarang, selain itu aku juga pelupa. Jadi ada baiknya kamu mengingatkan diriku besok.”

“Saya juga pelupa, mungkin lebih pelupa darimu. Jadi saya tunggu pesanmu supaya saya bisa mengingatkan dirimu untuk mengiri pesan. Bagaimana?”

“Hah? Sungguh merepotkan. Kamu sengaja mengatakan hal ruwet ini, kan?”

“Kamu yang memulainya terlebih dahulu, dasar pengkhianat.”

“Aku bukan pengkhianat. Kalau tidak ada yang kamu perlukan maka aku pamit terlebih dahulu, aku juga mulai mengantuk.”

“T-Tunggu! Kau tidak bisa pergi begitu saja.”

“Ada apa lagi memangnya?”

“A-Aku butuh info soal …”

Gwen terdiam dan tersipu.

“Hah? Cepat katakan.”

“A-Aku butuh informasi kuliner yang enak-enak.”

“Oh, soal itu. Kamu tidak usah khawatir. Ingatkan aku melalui SMS. Sudah ya, bye!”

“…”

Gwen memilih diam daripada mengulang pertengkaran yang tidak perlu.

* * *

Ambang Batas 2