Ambang Batas 2 Newtype

Novel by Ten Lite Novel

Bagian 2

Gwen mengikuti saran Ricky dan melewati berbagai macam test kesehatan selama sehari penuh. Secara hasil tes darah, electroencephalogram, CT scan, dan lain-lain, tidak ditemukan suatu kelainan pada otaknya. Ia juga disarankan untuk memeriksakan Nebula Gear, sebuah chips yang tertanam di leher bagian belakang, ke pihak pengembang. Ada asumsi kalau benda kecil tersebut sedang mengalami gangguan sehingga menyerang bagian otak dan saraf.

Nebula Gear merupakan chip tanda pengenal warga Batavia yang ditanam dekat Nebula Oblongata.
Ukurannya seperti micro SD dengan fungsi komputer di dalamnya. Melalui softlens khusus, warga Batavia bisa melihat layar komputer di depan matanya. Dengan gerakan jari jemari, mereka bebas komputer dimanapun, kapanpun. Mereka bisa mengatur tampilan layar sehingga tidak mengganggu penglihatan. Meski komputer micro ini sempat dinobatkan sebagai komputer terkecil dan teraman sekalipun, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti bisa terserang virus.

Namun apa yang dialami Gwen sudah terjadi sejak dua tahun yang lalu. Jika itu diakibatkan oleh virus, maka PT. Nebula. akan kehujanan komplain.

Mungkin asumsi-asumsi baru akan bermunculan jika ia terus memaksakan diri. Bukannya sembuh, ia bisa terkena stres sungguhan.

Gwen mendesah. “Saya lelah.”

Tengah malam nanti umur Gwen sudah 17 tahun, biasanya ia akan pergi ke pinggiran kota untuk berburu makanan berlemak. Namun malam ini ia tidak akan melakukannya. Ia terlalu lelah setelah melakukan berbagai macam tes kesehatan dan memutuskan pergi bersenang-senang di klub malam. Setiap kali Gwen mengalami mimpi buruk, malam harinya ia akan minum-minuman keras sampai tak
sadarkan diri.

Gwen selalu pergi ke kafe khusus wanita demi menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun setiap kali ia pingsan, keesokan harinya ia sudah kembali ke apartemen, dengan tubuh telanjang dan beberapa cinderamata berupa bekas lipstick di bagian perut. Entah siapa yang melakukannya, tapi Gwen tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting ada orang yang rela mengantarnya pulang.

Ò

“Tidak tau malu,” ucap wanita berambut pendek kemerahan. Ia mengenakan busana kantoran, pakaian putih dan rok hitam. Suaranya datar dan wajahnya kurang ekspresif sehinga nampak serius. Ia baru saja memasuki apartemen dan melihat tubuh Gwen
dengan penuh kesalahpahaman. “Gwen, bangunlah.”

Gwen membuka mata dan melihat wanita di samping tempat tidur. Wanita itu bernama Anya Brahmarasta, rekan sesama agen.

“… … Siapa? Anya?” Gwen menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. “Jadi selama ini kamu yang melakukannya ya?”

“Jangan berkata hal-hal bodoh!” bentak Anya. “Saya tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Saya datang ke sini karena kau tidak membalas pesan.
Hari ini kau mendapat tugas penting dari pemerintah.
Oh iya, ini embermu.”

“Ember?” Seketika itu juga ia merasakan mual-mual.
“Hupp! Hueekk!!” Gwen memuntahkan semua isi minumannya tadi malam. “Kepala saya masih pusing, apa kau membawakan obat?”

Anya melemparkan botol obat pada Gwen.

“Kau benar-benar penolong, Anya. Saya makin mencintai dirimu.”

“Kalau begitu pergilah ke jendela dan lompatlah.”

Gwen mengambil gelas di atas kabinet lalu mengambil satu butir obat. Ia memejamkan mata sejenak setelah meminum obat. Pandangannya masih kabur, ia bisa melihat kalau sekujur tubuh rekannya tersebut basah kuyub.

“Apa kau kehujanan saat datang kesini?”

“Ini semua dikarenakan gara-gara manajeman apartemen ini.” Anya duduk di tempat tidur dan ikut membuatnya basah. Gwen hanya bisa mengerutkan kening namun sungkan untuk memperingatkan.

“Apa ada salah satu karyawan yang tanpa sengaja menyiramkan seember air padamu?”

Anya mengeluarkan gawainya lalu lanjut bercerita sambil bermain game. “Manajeman apartemen ini telah membangun kolam di tempatku biasa berjalan. Akibatnya aku tidak siap dan tercebur masuk ke dalamnya. Dasar kolam brengsek!!”

“Jangan salahkan kolamnya!!” bentak Gwen.
“Salahkan dirimu sendiri yang selalu bermain game di setiap waktu.” Gwen menghela napas. “Jadi apa yang hendak kau jelaskan?”

“…” Anya tidak menjawab, fokus bermain game.
“Berhentilah main game!” bentak Gwen, “Bukankah kau ingin menjelaskan sesuatu?!”

“Oh, soal itu,” jawab Anya. “Hilangnya Issac dan Cindy masih menjadi PR buat kita. Cepat atau lambat proyek Nexus, yang sebelumnya ditolak oleh pemerintah, akan segera terealisasikan. Sebuah rekaman dari operasi penggerebekan kemarin malam membuat pemerintah geram. Belasan pasukan militer tewas dan objek penelitian pergi entah kemana. Terlebih lagi dua ilmuwan itu seolah ditelan bumi, tidak ada tanda-tanda tentang keberadaan mereka.”

“Kau yakin tidak ada agen Batavia yang dikirim waktu itu?”

“Semua agen sedang melakukan penyesuaian Nanosuit terbaru malam itu. Apa kau lupa?”

“Saya tidak begitu ingat.”
Gwen termenung. Kejadian yang diceritakan Anya mirip dengan mimpinya kemarin. Bedanya ia seolah ada dalam kejadian tersebut.

“Pagi ini kau akan ditugaskan untuk tinggal di wilayah Jawa Timur,” kata Anya.

Gwen tersentak. “Eh?! T-Tunggu, apa maksudnya dengan Jawa Timur? Bukankah kejadiannya di kota Batavia?”

“Meski masalahnya ada di kota Batavia, menteri pertahanan mengusulkan kalau kita perlu menyisir seluruh wilayah. Beliau tidak ingin mengambil resiko, terlebih lagi subjek penelitian Nexus bersumber dari wilayah itu.”

“Apa saya akan pergi ke kota Hero?” tebak Gwen.

“Ya, kota asal penyebaran Extender itu sendiri merupakan tempat paling ideal bagi penelitiannya.”

“Bukankah kita sudah ada perwakilan untuk di sana?”

“Beberapa agen yang tinggal di sana akan dikirim ke Jawa Tengah. Domisili mereka sangatlah menguntungkan untuk menyelinap ke wilayah tersebut. Berbeda dengan kita yang berdomisili Jawa Barat, kita akan terus di awasi, bahkan warga kota Batavia akan di tolak mentah-mentah sebelum memasuki wilayah tersebut. Hingga saaat ini, Jawa Timur masih tidak menunjukkan keberpihakan pada sisi sains maupun sihir. Tentu saja hal itu sangat menguntungkan bagi pihak Batavia, surat pindahmu bisa di urus tanpa adanya kecurigaan.”

“Surat pindah?!” Gwen membelalakkan mata. “Kupikir ini hanya misi klandestin.”

“Kau harus membaur dengan masyarakat.”

“Sebenarnya saya tidak masalah sih, asalkan bisa berburu kuliner dan bisa satu apartemen denganmu.”

“Hanya kau yang dikirim. Cari saja wanita lain untuk kau ajak bermain gila di kamar.”

“Saya tidak melakukan hal itu karena menyukainya! Cinderamata ini kudapat karena penolongku yang suka meminta imbalan dikala saya tak sadarkan diri.
Lagipula pergi ke Jawa Timur seorang diri tanpamu itu sama saja curang namanya.”

“Akan lebih baik jika kita jaga jarak untuk sementara waktu. Saya tidak ingin jadi korban.”

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Saya tidak percaya.”

Gwen menghela napas. “Saya lelah.”

“Oh, saya game over lagi. Baiklah, saya harus kembali.”

Anya memasukkan gawai dalam saku dan pergi meninggalkan apartemen.

* * *

Ambang Batas 2