Chapter 2: Kontak Pertama

Setelah memutuskan untuk menuju reruntuhan kota abad pertengahan eropa itu, mereka bertiga akhirnya melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dituju itu.

Mereka menyusuri hutan dan menuruni lembah tak kurang dari 2 jam perjalalan dan sampailah mereka pada tempat yang dituju.
Ketika mereka sampai, ternyata tempat yang dituju itu hanya reruntuhan kota.

“Hey ketua… Setelah melihat dari dekat, bukankah ini hanya reruntuhan kota tua yang tak berpenghuni?” Hamid bertanya pada Lutvi setelah mereka sampai di Kota yang dituju.
“Emang kelihatannya ini apa? Jangan menanyakan hal bodoh saat sedang serius… oh, Hei Hasbi, berikan tas mu..”
“eh..ini..”
Lutvi membalikkan pertanyaan bodoh Hamid dan mengambil golok survival bermerk Eagle Machete didalam tas yang digendong Hasbi.
“Hamid, keluarkan pistol mu, kita tidak tahu bahaya apa yang mengancam kita di reruntuhan kota ini!”
“ba-baik… Ketua, kau mendadak menjadi agak sedikit menyeramkan..”
“Jangan banyak omong, lakukanlah.. Dan Hasbi, perhatikanlah sekitar, kita tidak tahu apa yang menghuni reruntuhan ini… Ayo maju!”

Lutvi memegang komando sambil membawa golok dengan posisi siaga, Hamid dibelakangnya mengikuti sambil memegang pistol revolver yang ia bawa dan Hasbi mengawasi keadaan sekitar dan berjalan diantara Lutvi dan Hamid.

Mereka mengendap-endap seolah mencari sesuatu.
Bersembunyi diantara reruntuhan, telinga Hasbi mendengar sesuatu yang aneh.
Suara aneh dari balik dinding reruntuhan.
“…hey ketua, kau dengar itu?” Hasbi berbisik pada Lutvi dan Lutvi pun mencoba mencari asal suara itu.
“hmm.. Suara berasal dari balik dinding disana… Hoy Hamid.. Periksa disana..”
“eh Aku? Kenapa aku?”
“Karena kau yang tubuhnya paling kecil, jadi mereka mungkin takkan melihatmu. Terlebih kau membawa pistol.”
“ahh.. Kau selalu saja menyinggung hal itu…. *sigh*, baiklah aku akan kesana.”
Hamid dengan berat hati melangkah dan mengendap-endap menuju asal suara tersebut.
Semakin dekat dan semakin dekat, ia bersembunyi di tembok dan mengintip sedikit.

Ketika ia melihat, nafasnya mendadak semakin berat, jantungnya berdebar semakin cepat, matanya melebar seperti melihat sesuatu yang mengerikan.
Ia pun memutuskan kembali pada teman-temannya dengan terburu-buru dan tanpa suara.
“Hamid… Apa yang kau lihat? kau seperti melihat hantu.”
Hamid terengah-engah dengan wajah pucatt. “Aku melihatnya… Itu…makhluk itu… Mereka goblin!”
“apa? Goblin!!? Tunggu, apa maksudmu?? ” Hasbi tiba-tiba saja memotong pembicaraan.
“iya… Seperti itu… Goblin, sepertinya tempat ini sarang goblin…”
“…jika mereka goblin, berarti tidak salah lagi. Ini adalah dunia lain….” Hasbi memegang dagunya seolah olah berfikir. “ketua-”
“Ya! Aku tahu… Hmm… Ini benar-benar buruk.. Ayo kita cepat-cepat keluar dari sini sebelum mereka menyadari keberadaan kita.. Ayo!”
“”baik!””

Mereka berusaha keluar dari kota mati itu secepatnya.
Namun, sepertinya goblin yang menghuni tempat itu sudah mengetahui keberadaan mereka.
Suara sahut menyahut dengan suara aneh terdengar.
“ah kampret.. Kita ketauan!!” Lutvi menggerutu selagi mempercepat langkahnya.
Mereka berlari berusaha keluar dari kota itu sementara panah dari goblin yang berada diatas bangunan menghujani mereka.
“….Ack!!!” Hamid yang berada paling belakang jatuh setelah betisnya terkena panah. “ah sial!! Kakiku…. Ackkkk.!” ia berteriak dan terguling.
“”Hamid!!”” kedua pemuda yang berlari didepan berhenti dan menghampiri Hamid yang tersungkur.
“Mundur!! Ketua, Hasbi!! Cepatlah lari!! Menjauh!! Ughh…” ucap Hamid yang terjatuh dan kini berusaha melepaskan panah yang menancap pada kakinya.

Lutvi dan Hasbi tak bisa membiarkan itu terjadi, mereka terus menghampiri Hamid yang terlihat terluka.
Sementara itu, segerombolan goblin berjumlah 7 ekor berlari menghampiri mereka dari arah lain.
Hamid mengeluarkan pistol revolver dari dalam jaketnya.
“guhh… Sial.. Tidak ada cara lain!”
Ia mengeker goblin pemanah yang berada di atas bangunan.
“Mati kau, bangsat!”
Dengan suara tembakan seperti petir yang menyambar, jatuhlah goblin pemanah yang berada diatas bangunan tadi dengan menyisakan lubang didadanya.

Gerombolan goblin yang berada dibawah mendadak berhenti berlari mereka setelah mendengar suara yang memekakkan telinga itu dengan ekspresi kebingungan, beberapa dari mereka ada yang mundur dan lari karena ketakutan.

Lutvi dan Hasbi tiba dibelakang Hamid.
“Hamid-”
“Ush ush…”Hamid memotong perkataan Lutvi “Jangan membuat pertanyaan klise seperti ‘apa kau baik-baik saja?’ sudah kelihatannya kan kalo aku ini sedang tidak baik-baik saja! Lagipula kenapa kalian disini!? Cepat pergi sebelum mereka mengejar sampai kesini!”
Lutvi dan Hasbi yang berniat menolong memasang wajah kesal seakan ingin berkata ‘Sialan nih orang, mau ditolongin malah marah-marah gak jelas’.
“Woy, kenapa kalian malah diem. Kalo mau nolongin dari tadi kek!. Tolong tuh cabutin panah-panah yang nanceb di tas dan biarkan yang nancep dikakiku kuurus sendir- ahh..”
“Kampret, nyebelin banget!!” Lutvi menampar belakang kepala Hamid yang sedang mengoceh. “Mau ditolong malah marah-marah gak jelas, udah gitu nyuruh-nyuruh seenaknya! Kampret lu!”
“Woy! Kan gua udah bilang cepetan lari dan gua gak perlu ditolong! Gua punya senjata coy! Tapi lu datang kesini juga! Lu mau nambah kasualitas hah!? Lagipula gua gak akan mati dengan mudahnya oleh segerombol makhluk ber IQ jongkok disana itu!”
Hamid menunjuk ke arah gerombolan goblin yang kelihatannya masih shock dikarenakan suara tembakan tadi.
“Kampret!” Lutvi mengepalkan tangannya. “ucapin terimakasih kek lu udah gua peduliin, eh malah songong! Gua hajar lu biar tau rasa!” Lutvi mengangkat tangannya untuk memukul Hamid dan Hamid memasang posisi berlindung.

“Ah!! Cukuuup!!” Hasbi yang sedaritadi memperhatikan mereka saja tiba-tiba berteriak menghentikan Lutvi. “Lihat! Goblin-goblin disana sudah mulai bergerak dan kesini! Berhentilah berkelahi kalian berdua! Dan cepatlah kita kabur!” sepertinya goblin-goblin itu sudah tersadar setelah mendengar perkelahian Lutvi dan Hamid.
“oh sial! Ini buruk! Ini bahaya!! Ketua, Hasbi ayo lari!
eh…” Hamid berteriak dan seketika kebingungan ketika menengok kebelakang. Lutvi dan Hasbi sudah berlari lebih dulu sekuat tenaga.
“Uh sialan! Tunggu woy! Ah..”
Hamid berusaha bangkit dari duduknya dan mencoba berlari, namun ia terjatuh lagi karena ia menyadari bahwa anak panah masih tertancap dibetisnya.
“…ugh… Sial! Ack…baiklah, 1…2…3 aaaackhhhh… Hufh berhasil!” ia meringis kesakitan ketika menarik anak panah itu dari kakinya yang berlumuran darah.
Namun seketika, luka di kakinya sembuh seiring dengan keluarnya uap tipis dari luka tersebut.

Ia berdiri bersiap menghadapi gerombolan goblin yang semakin mendekat.
Ia menggenggam dan mengarahkan pistol revolvernya ke arah goblin-goblin itu. Semakin dekat… Semakin dekat… Siap-siap menarik pelatuknya..
Dan…
“Huh?” ia kebingungan ketika sebuah anak panah melesat dan mengenai tubuh salahsatu goblin yang mendekat.
Ia berbalik berharap itu adalah temannya, namun ia terkejut setelah menyadari bahwa dibelakangnya terdapat 4 orang remaja dengan pakaian aneh.

Dua diantaranya adalah wanita, satu wanita berpostur tubuh ramping dengan bentuk yang bagus, berambut merah, bermata merah dan memakai jubah hitam serta membawa tongkat kayu berbentuk aneh. sangat mirip dengan deskripsi ‘mage’. Yang satunya adalah wanita berambut panjang berwarna hijau tua bergaya ponytail memakai baju seperti armor kulit(leather armor) dan celana sebatas lutut yang sepertinya terbuat dari kulit serta membawa panah dan juga membawa belati di sabuknya.

Salahsatu laki-laki diantaranya adalah seseorang bertubuh tinggi dan ramping berambut pendek berwarna cokelat dengan warna mata yang sama dengan rambutnya, ia memakai baju pendek yang terbuka dibagian dada serta celana panjang dan disabuknya terdapat beberapa belati, ia juga memegang belati di tangan kanannya.
Yang lainnya adalah pria tinggi dengan badan besar memakai armor berat dan bersenjatakan greatsword dua tangan. rambutnya tidak terlihat karena memakai helm tapi warna matanya hitam.

Dua pemuda itu berlari menuju kawanan goblin dan melewati Hamid yang masih mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Mereka yang laki-laki bertarung melawan goblin-goblin itu di garis depan, sementara dua orang perempuan di belakang membantu mereka.

Pertarungan pun memanas.
Pria dengan badan besar bertugas seperti tanker, ia menarik perhatian musuh untuk menyerang dirinya dan pria yang satunya menyerang goblin-goblin yang menyerang si tanker.
Dibelakang, wanita dengan panah berusaha melindungi kedua teman laki-lakinya dari serangan panah dari goblin diatas bangunan.
Sementara wanita yang seperti mage melafalkan sesuatu seperti mantra-mantra, lalu muncul bercak cahaya berwarna ungu gelap meluncur menuju goblin-goblin itu, seketika para makhluk itu pun terlihat lemas dan membuat para penyerang didepan lebih mudah membunuhnya.

Satu persatu goblin dibunuh, darah-darah tercecer ke jalanan dan panah-panah berterbangan.
Dan, Hamid masih saja bengong seperti orang bego.
Dalam fikirannya ia bergumam ‘ini malah terlihat seperti game onlen’.
Selagi melamun, ia dikejutkan oleh sentuhan seseorang dibelakangnya.
Ia berbalik dan menemukan seseorang yang menyentuhnya adalah wanita berambut hijau tua sambil mengarahkan tangannya ke belakang dan berkata dengan bahasa yang tidak pernah Hamid dengar sebelumnya.

“Eehh… Emm,… Ngomong apaan sih? Engg…. Gak ngerti ah.. Sumpah gak ngerti!”
Hamid kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh gadis dihadapannya itu.
Gadis itupun tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Hamid begitupun sebaliknya, namun terus saja mengoceh sambil menunjuk ke belakang.

Mungkin karena kesal oleh Hamid yang hanya memasang wajah bodoh ketika ia berbicara, gadis itu pun menarik kerah jaket Hamid.
“..woy… Apaan ini!? Jangan tarik-tarik atuh! Hey hey!! Ntar Jaketku rusak woy! Adu-duhh…” Hamid terkejut dan berteriak-teriak ketika ia ditarik menuju sebuah tembok.
Hamid ditempatkan dibalik tembok, mungkin tujuannya adalah untuk melindungi Hamid dari serangan panah.

Gadis itu berbicara lagi pada Hamid dan kembali ke medan perang.
Kali ini Hamid mengerti apa yang dimaksud oleh gadis itu, yaitu dia menyuruhnya untuk bersembunyi disini.

“Hahh.. Bodohnya aku.” Hamid menghela nafas panjang dan terduduk sambil bersender di tembok.
“Ahh… Ini kacau sekali… Kenapa semuanya jadi seperti ini…” Ia bergumam dengan tangan kirinya memegang kepalanya.

Suara dentingan metal, suara jeritan kesakitan dari makhluk yang disebut goblin dan suara sayatan pedang beriringan memecahkan kesunyian kota tua yang mati, namun Hamid hanya bisa terdiam dengan keadaan seperti ini.


“hah….hah… Ketua… Hah… Hah…. Bisakah kita istirahat sejenak.. Uh..” Hasbi mengeluh, ia terlihat sangat kelelahan dikarenakan dipaksa berlari dengan menggendong tas berat.

“.hahh….hah… Mau bagaimana lagi, lagian jika kita gak kabur ya kita bisa mati.” Lutvi, meski kelelahan tetap saja terus memaksa berlari demi keselamatannya.

“ahh cukup!! Aku tidak tahan lagi!” Hasbi berteriak, ia menghentikan langkah kakinya, melepaskan tasnya dan duduk diatas rerumputan dan daun-daun yang menutup tanah di hutan. “Aku capek, sungguh! Istirahatlah sebentar, ketua!”
Yah, seperinya dia sudah mencapai batasnya.

“hmph.. Yah, tidak ada pilihan lain.
Lutvi mau tidak mau juga ikut berhenti dikarenakan temannya kelelahan, terlebih Hasbi adalah yang paling lemah fisiknya diantara mereka bertiga.

Mereka berdua duduk diantara lebat dan sunyinya hutan yang tak mereka kenali. Membuka air mineral yang mereka bawa sejak pendakian dan meminumnya. Desiran angin berhembus menyentuh kulit mereka yang penuh keringat membawa perasaan nyaman.

Tapi, Lutvi merasa aneh.
“Hasbi… Apakah kau tidak merasa aneh?” Lutvi bertanya pada Hasbi dengan tatapan serius.
“aneh? Ya, tentu saja sejak awal aku merasa aneh pada tempat ini.”
Lutvi berfacepalm mendengar jawaban Hasbi yang tidak sesuai dengan yang ia inginkan “…Bukan itu maksudku! Ini aneh kenapa tidak ada suara tembakan pistol dari jarak segini setelah kita lari..”
“huh, hmm…. aaahhhh!!!!”

Hasbi terperangah ketika ia mengerti apa yang sang ketua paparkan.
“Hamid.. Jangan-jangan dia… Ya ampun.. ketua!”
“ya aku tau, aku tau.. Tenangklah sedikit, duh… Malah jadi runyem yeuh.”
“bagaimana aku bisa tenang, ketua! Apakah kita akan membiarkan salahsatu kawan kita dibunuh oleh makhluk-makhluk itu!? Yang benar saja!”
“tenanglah sedikit! Dia sudah bilang dia takkan mati dengan mudah, kan? Kau sendiri lihat ekspresi mukanya? Berbeda denganmu, meski tubuhnya paling kecil diantara kita tapi dia pengguna seni beladiri silat yang lumayan!”
“…o-oh.. Kau benar, ketua…”
“Hey, jangan memasang wajah sedih seperti itu… Menjijikkan.. Yah, itu salahmu sendiri jika diajak untuk berlatih pencak silat kau selalu menolak… Jangan murung, lagipula setiap orang menjadi kuat pada waktunya… Kau juga, pasti akan ada saatnya.. Waktunya? Itu tergantung dirimu.”
“…”

Lutvi mencoba menenangkan Hasbi yang memasang wajah murung, Hasbi merenungkan kata-kata Lutvi, memang ia merasa dirinya tidak berguna dikarenakan dirinyalah yang paling lemah diantara temannya yang lain, namun perkataan sang ketua ada benarnya dan menyentuh hatinya membuatnya bersemangat kembali.

“..he-y ketua.. apa kau pikir kita akan kembali lagi kesana dan membantu Hamid? Entah kenapa aku merasa khawatir pada dirinya, terlebih karena sifat semena-menanya.”

“yeh… Kurasa juga begitu… Yah, baiklah ayo kita kesana..” Lutvi berdiri kembali dan bersiap untuk kembali dan menolong Hamid.
“ehh…? Sekarang?”

“Ya kapan lagi atuh? Si Bodoh itu juga manusia, pasti ada capeknya, kalo kita gak buru-buru menolongnya, mungkin dia bisa jadi makan malam makhluk ber IQ jongkok itu! Ayolah cepat berdiri!”
“..hey tunggu… Ketua! Aku masih capek!”

Lutvi berjalan kembali menuju Hamid untuk menolongnya dan meninggalkan Hasbi yang masih kelelahan.
Mau tak mau, Hasbi mengikutinya dari belakang.
“Ketua! seperinya itu.. Hamid, tapi… Ia seperti terlihat murung dengan posisi duduk memeluk dengkul seperti itu..”

“Ya, aku tau… Ayo cepat kesana, berbahaya jika dia terluka parah disini!”
Mereka berdua mempercepat langkah kakinya menuju Hamid yang sedang duduk dibalik tembok.


Beberapa saat berlalu, suara bising tadipun hilang bak ditelan bumi.
Hamid berdiri dan mengintip dari balik tembok untuk memeriksa apa yang terjadi.

Yang ia lihat adalah jalanan yang berubah menjadi merah kehitaman, mayat-mayat goblin berjumlah sekitar 12 ekor tergeletak, ada yang kepalanya putus, ada yang isi perutnya keluar dan ada pula yang terbelah menjadi dua.

Tatapan Hamid berubah seolah-olah ia melihat film horor, nafasnya menjadi berat, kepalanya pusing, tubuhnya merinding akibat bau darah yang menyengat dan membuatnya memuntahkan makan siangnya.

“…ughh… Uekkkk!!!”
“kau tidak apa-apa mid?”
Ketika ia masih memuntahkan isi perutnya, suara seseorang yang ia kenali muncul dibelakangnya.
Ia berbalik dan mendapati sumber suara itu adalah temannya.

“….huh!?? Hasbi… Ketua…hah…hah…hah…”
“Yah, sepertinya sekarang kau tidak baik-baik saja ya? sheessh.. Ambil ini..” Lutvi memberikan botol air mineral pada Hamid yang baru saja muntah dan masih terengah-engah.

“..hah..hah… Makasih, *glup* *glup* *glup* Ahhh…” Hamid pun membuka dan meminumnya. “ngomong-ngomong, ketua… Kenapa kau dan Hasbi malah muncul disini?”

“Kau bodoh atau gimana!? Ya jelas lah! Sesama teman mana mungkin akan saling meninggalkan…. Yah, meskipun tadi aku kabur sedikit… Hahahahah”

“…ketua….. Maaf karena keegoisanku tadi..” Hamid memasang wajah menyesal.

“woe woe, udah gak usah masang muka seperti itu.. Ah ayolah… Dan lagi pula tidak apa, wajar jika dalam kondisi seperti itu kau tiba-tiba ngegas, yah terserahlah… Yang terpenting, kau baik-baik saja… Yah Baiklah, Ayo pergi.. Lagipula kita harus menemukan kota terdekat sebelum malam untuk mencari tempat berteduh.”

Lutvi memandang langit yang mulai berawan sementara Hamid memasukkan revolver kedalam jaketnya dan mengambil tasnya yang tergeletak di tanah.

Mereka bertiga bersiap untuk berjalan kembali.
Namun, suara seseorang terdengar dari arah belakang seperti memanggil mereka.

Ketika mereka berbalik, mereka mendapati seorang gadis berambut hijau sedang melambai pada mereka. Disampingnya ada gadis ‘mage’ dan dua pria luka-luka yang sepertinya sedang diobati oleh gadis berpakaian putih panjang berjubah bergaris biru.

“…huh… Darimana…”
Hamid kebingungan dan bertanya-tanya dalam fikirannya, kenapa sekarang ada 5 orang padahal saat pertempuran tadi hanya ada 4.
“mid..mid.., kau kenal mereka?” Hasbi bertanya pada Hamid sembari tangan kanannya menunjuk pada orang-orang itu.

“gak tau… Sumpah gak tau.. Mereka tiba-tiba aja muncul pas aku akan menembak goblin-goblin itu dan menyuruhku bersembunyi di balik tembok tadi… Hmm, memangnya kenapa?”
“….itu… Mereka terlihat seperti cosplay murah-…guhhh” Sebelum menyelesaikan ucapannya, Lutvi menampar kepala bagian belakang Hasbi.

“kau ini!… Jangan bicara seenaknya , ayo kesana… Lagipula ini merupakan kontak pertama kita dengan orang-orang di tempat antah-berantah ini…” setelah menampar Hasbi yang bicara seenaknya, Lutvi pun memutuskan untuk menuju orang-orang itu.

“tunggu dulu ketua! Kita tidak bisa kesana, mereka berbicara dengan bahasa yang aku sendiri tidak mengetahuinya..” Hamid berusaha menghentikan langkah kaki Lutvi.

“ya ya ya.. Terserahlah, aku akan tetep kesana… Bukankah tadi kita juga berniat menuju kota atau pemukiman terdekat, kan? Mumpung ada mereka, ya ini kesempatan kita untuk mencari itu… Dan juga… menyingkirlah dari hadapanku..”

Lutvi mendorong Hamid ke sisi kanan karena menghalangi jalannya, Hamid pun gagal untuk menghentikan Lutvi.
Dipimpin oleh Lutvi, Mereka bertiga akhirnya menuju ke lokasi orang-orang tadi.
Meskipun darah yang mulai mengering dijalanan, mereka tetap menghampiri orang-orang itu.

Akhirnya, sampailah mereka disana. Gadis dengan rambut hijau menyapa mereka, namun mereka hanya bisa garuk-garuk kepala dan memasang muka kebingungan. Yah, wajar saja karena mereka tidak mengerti bahasa macam apa yang digunakan.

“…tuh kan, kubilang juga apa..” Hamid berbisik pada Lutvi yang sedang kebingungan.
“..,kau benar… Tapi aku ada ide.. Mid, berikan bolpoint dan buku…” Lutvi membalasnya, namun ia sepertinya punya ide.
“aku tak punya, Hasbi.. Kau bawa kan?”
“ah ya, aku membawanya.”
Hasbi membuka tasnya dan mengeluarkan buku dan bolpoint.

“berikan padaku, dan kalian berdua.. Istirahatlah, sekarang giliran sang ketua yang bertindak.”
“ealahh, banyak gaya.” Hamid mengejek Lutvi yang sedang kambuh sifat alaynya.
“tsk.. Brisik!”
Lutvi menghampiri gadis berambut hijau itu dan mulai berbicara melalui gerakan tangan. Meskipun ia tidak mengerti apa yang diucapkan gadis itu, tapi sepertinya Lutvi bisa mengerti makna dari ucapannya, terlihat dari anggukan kepala Lutvi ketika mendengarkan ucapan gadis itu.

“mid..mid… Ketua hebat juga ya bisa mengerti bahasa yang tidak pernah ia dengar hanya dengan waktu singkat.” Hasbi yang melihatnya pun kagum dengan apa yang ketuanya lakukan.
“hmm.. Tapi, Menurutku dia tidak sepenuhnya mengerti, dia hanya mengira-ngira apa yang biasanya dikatakan seseorang jika bertemu orang yang sedang tersesat. Itu saja..” namun kelihatannya, Hamid tidak kagum samasekali.

Yah, memang benar. Dimanapun ada orang tersesat pasti yang ditanyai itu-itu saja.
Lutvi, meski tidak mengerti apa yang diucapkan ia hanya mengangguk.
Setelah ia tau bahwa ia ditanya ‘ingin kemana’ maka ia pun menggambar sebuah ilustrasi kota dan memperlihatkan gambar itu pada gadis berambut hijau.

Gadis itu diam sejenak, ia berfikir mengenai kemungkinan orang-orang asing ini mencari pemukiman atau kota terdekat.
Gadis itu menunjuk ke arah selatan, yah. Ia menunjuk ke arah kota berada di sebelah selatan dari sini.
Lutvi yang tadinya tegang, menjadi bercahaya kembali.
Senyum terimakasih terukir di pipinya.
Gadis itu berbicara sekali lagi, seolah mengajaknya untuk ikut bersama kelompoknya menuju kota yang akan dituju itu.

Lutvi pun langsung mengerti apa yang gadis itu maksudkan.
“Hoy… Hamid, Hasbi… Kemarilah!” Lutvi memanggil kawannya di belakang yang sedang berbincang-bincang. “Cepatlah… Mereka akan mengajak kita ke kota terdekat!”
“kalem aja kali gak usah teriak-teriak…. Lagipula aku ini gak budek.”
“Yaudah cepetan kesini!”
“Iya dah iya!”
Hamid dan Hasbi pun menghampiri Lutvi meski dijalan masih tetap mengobrol hal-hal tak berguna.
Lutvi yang melihat ini hanya bisa ber’facepalm’.

Akhirnya mereka semua berkumpul, sekali lagi gadis dengan rambut hijau itu berbicara pada Lutvi dan ia hanya mengangguk.
“oh gitu… Hm, oh ya ya… Oh kitu nyah? He’eh kumaha sia we lah hayoh atuh burukeun tunjukkeun jalanna..”
Hamid dan Hasbi mencoba menahan tawanya ketika menyaksikan percakapan Lutvi dan gadis itu, namun sepertinya sia-sia, mereka berdua tertawa terlalu keras sampai-sampai membuat yang hadir disana memandang mereka dengan tatapan aneh.
Dan akhirnya mereka semua berangkat menuju kota dengan dipimpin sekumpulan warga lokal itu.


Menyusuri hutan lebat yang tak dikenal, mereka berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun kecuali warga lokal yang saling mengobrol didepan mereka.
Serangga hutan saling memanggil serta langit mulai berubah warna menjadi jingga pertanda hari sudah mulai senja.
Angin berhembus menepak menggugurkan daun-daun kuning pada pohon-pohon besar, berjatuhan dan terinjak-injak oleh makhluk-makhluk yang lewat di jalan ini.

“Hmm…” Hamid bergumam setelah mengamati suasana ini, ia merasa ada yang salah dengan suasana sekarang ini. Yah, ia baru saja menyadari bahwa warna dari dedaunan di hutan ini, bahkan sejak mereka menyadari diri mereka tersesat warnanya tidaklah hijau keseluruhan seperi hutan di area Gunung Salak, melainkan didominasi warna kuning seperti sedang musim gugur.
“Ketua, apakah kau menyadari sesuatu?”
“Apa lagi! Bisakah kau tidak bertanya padaku sekarang? Aku lelah… Aku tak peduli dengan kondisi apapun, yang kuinginkan adalah cepat sampai ke kota terdekat dan beristirahat… Tubuhku benar-benar lusuh, lihat tuh Hasbi, dia juga kelelahan.”

Mendengar balasan Lutvi yang mulai tidak bersemangat membuatnya kehilangan minat berbicara padanya. “heeh.. Yasudah..”
Memang, perjalanan dan tragedi yang terjadi hari ini benar-benar menguras tenaga mereka, mereka harus berjalan jauh dengan beban didalam tas yang mereka bawa dapat menguras tenaga dengan cepat.

Beberapa saat kemudian, dari bukit yang mereka pijak, terlihatlah sebuah sekumpulan bangunan.
Yah, itu adalah sebuah kota yang terlihat seperti kota benteng (fortress city).

Tidak terlihat adanya kastil atau apapun bangunan sebesar kastil, hanya kumpulan rumah-rumah dari ukuran kecil hingga sebesar supermarket dan bangunan seperti tower.

Rasa lega terukir diwajah ketiga pemuda dari dunia lain ini.
Ketenangan akan tempat bernaung seperti hilang bak ditelan bumi.

Akhirnya, setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 jam dari reruntuhan kota tua, sampailah mereka di kota berpenghuni.
Jalan berbatu namun tertata rapi terpampang didepan mereka, rumah-rumah yang dibangun dari bata merah tersusun hampir menutupi 3/4 bukit, begitu juga dengan bukit yang satunya.
Orang-orang dengan pakaian mirip dengan pakaian abad pertengahan berlalu lalang dijalanan dan saling berbicara dengan bahasa yang samasekali tidak bisa dimengerti.

Yah, begitulah suasana kota ini.
Meski hari mulai senja, namun masih terasa ramai oleh orang-orang yang melakukan urusan-urusannya.

“hmm… Yah, ini benar-benar sesuai dengan ekspektasi..”
Lutvi bergumam dengan wajah yang lelah. “tapi ini tidaklah buruk, setidaknya bermalam di kota lebih aman daripada ditengah hutan, benar kan?.” ia mengangkat kepalanya seeraya memandang langit yang berwarna oranye.

“Hufhhh… Meski kau bilang begitu” Hamid merespon dengan tatapan jengkel. “tapi apa yang akan kau rencanakan sekarang, ketua!? Kita tidak tau apapun mengenai kota ini, kita tidak mengerti bahasa apa yang mereka gunakan, kita tidak punya uang yang berlaku disini, bahkan kita tidak tau kenapa kita ada disini! Kenapa… Kenapa kau bisa begitu tenang dengan ini semua!?” Hamid meluapkan kekesalannya dengan suara yang agak meninggi mirip sebuah teriakan, cukup keras sehingga membuat warga yang berlalu lalang menatapi mereka dengan ekspresi aneh.
Lutvi menghentikan langkah kakinya, menundukkan kepalanya dan pundaknya mulai merinding seolah-olah menahan sesuatu.

“..he-y..ketua…. Apa kau tidak apa-apa?” Hasbi bertanya dengan ekspresi khawatir karena perubahan mendadak sang ketua. “Hamid, kau terlalu banyak komplain! Lagipula jika tidak karena ketua, mungkin kita masih tetap dihutan dan bermalam disana!”

“Hentikan Hasbi… Hamid benar…” Ucap Lutvi dengan suara agak bergetar.
Lutvi menghela nafas panjang dan tiba-tiba mendongakkan kepalanya ke langit.

“Jujur saja.. Aku sebenarnya sangat khawatir dan tidak bisa tenang dengan kondisi saat ini.. Lagipula siapa yang bisa tenang jika dirinya tersesat? Tapi… Tapi apa salahnya kita mencoba tenang dan mencari jalan keluar secara aman? Bukankah hal itu juga kau ketahui, mid?”

Lutvi berbalik menghadap temannya dengan wajah tersenyum.
“Lagipula.. Aku tidak kesini tanpa rencana..kau tau? Hehehe..” Lutvi berbalik lagi menghadap jalanan dan mulai berjalan. “Kita akan mencari rumah yang tidak berpenghuni dan jadikan tempat kita beristirahat malam ini… Ayo pergi!”
Lutvi dan Hasbi berjalan kembali, namun Hamid masih terdiam dengan menundukkan kepala.

Ia menghela nafas panjang dan mengangkat wajahnya, senyuman terlihat di wajahnya setelah ia mengerti apa yang dikatakan sang ketua.
“hahhhh…. Maaf sudah merendahkanmu, ketua..” ia bergumam dan berjalan menyusul kedua temannya yang sudah berada didepan.


“Hoy Ketua… Apa bener ini tempat yang kau maksud?”
“Hmm.. Mungkin..”
“..Ketua… Ini malah terlihat seperti rumah angker..”
Setelah mereka berpisah dengan kelompok warga lokal atau bisa disebut juga ‘petualang’ yang membawa mereka ke kota ini, dan keributan kecil yang terjadi sore tadi, serta rencana untuk mencari rumah kosong dan kini mereka berdiri dihadapan sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah kosong.

“hmm… Coba kita lihat…” Lutvi menyorot senter miliknya kedalam bangunan tanpa pintu itu.
Cahaya terang dari senter menyapu kegelapan yang menyelubungi bangunan tua itu.
Terlihat bagian dalam bangunan itu sangat bersih, saking bersihnya sampai tak ada satu barangpun disana. Hanya lantai yang sedikit berdebu.
“hmm… Kelihatannya tidak buruk, baiklah… Ayo..”
Lutvi, Hamid dan Hasbi memutuskan untuk masuk ke bangunan itu.
Namun, tiba-tiba ada suara seseorang dari arah belakang mereka.
Ketika mereka berbalik, mereka mendapati sumber suara itu adalah seorang sekelompok orang yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita yang sepertinya sebaya mereka.

Mereka menatap kelompok Lutvi dengan tatapan tajam, seolah-olah ingin memakan mereka.
“eh.. Uh.. Ini.. Em…” Lutvi tergagap ketika mereka menatapnya dengan tatapan intimidasi. “mid.. Hasbi, duh.. Bisa gawat nih kalo disangka maling… Kalian berdua pergilah duluan..”
“”Baik””

Lutvi memerintahkan kedua temannya untuk pergi duluan, sementara ia mencoba meluruskan kesalahpahaman ini.
“uhm.. Ini.. salah paham… Aku tidak bermaksud… Umm.. Mencuri apapun..” Lutvi mencoba menerangkan pada kelompok itu dengan gerakan tangan, namun sepertinya percuma. “kalau begitu… Aku… Pergi.. Selamat tinggal”. Ia pun buru-buru menjauh dari tempat itu.
Sementara itu, teman-temannya sudah tidak terlihat lagi.

“huh…. Hampir saja, tak kusangka bangunan seperti itu sudah ditempati.. Huuuhh…” ia menghela nafas untuk melegakan perasaan tegangnya. Tapi ia segera menyadari sesuatu.

“hmm.. Dimana kedua orang kampret itu.. ninggalin orang seenaknya… Ah, tapi itu juga salahku menyuruh mereka pergi duluan… Aaaahhh.. Serba salah kampreeet!!!”
Ia beteriak didalam fikirannya, sementara tubuhnya berusaha tetap tenang dan mencari kedua temannya yang mendadak hilang seperti ditelan bumi.

Tak seberapa jauh dari bangunan tadi, ada lagi bangunan yang hampir mirip dengan yang tadi hanya saja lebih tinggi sedikit dan berlantai dua.

Dari jendela atas bangunan itu terdapat cahaya putih seperti berasal dari lampu senter.
“ah.. Itu pasti mereka.” pikirnya.
Tanpa pikir panjang, ia memasuki bangunan itu.
Tepat saat ia masuk, seseorang turun dari tangga.
“Ternyata itu kau, ketua!”

Tidak salah lagi, itu adalah Hamid dan Hasbi yang sedang menuruni tangga.
“Ah ketua, aku menemukan tempat kosong yang bagus untuk kita bermalam. Dan juga Hasbi sudah memeriksa ke belakang ternyata ada aliran air dan kamar mandi yang, yah, termasuk bagus lah untuk ukuran zaman ini.”

“ya ya ya.. Terserah lah.. Hemmhhh.. sebaiknya kita segera mengamparkan matras dan kantung tidur untuk kita tidur… Aku benar-benar lelah hari ini.”
Lutvi terduduk di sudut ruangan dan menselonjorkan kakinya yang masih memakai sepatu.

Diikuti oleh Hasbi yang sama-sama duduk dengan wajah kelelahan di sudut lain.
Hanya tersisa Hamid yang masih berdiri namun tanpa terlihat kelelahan sedikitpun, kemudian ia mengambil matras dan mengamparkannya serta mengeluarkan kantung tidur dan memberikannya pada mereka berdua.
Hasbi dan Lutvi, mereka berdua membuka sepatu dan jaket mereka serta bersiap untuk tidur.

Tak berapa lama, mereka pun tenggelam dalam lautan mimpi, yah. mungkin karena mereka kelalahan.
Sementara Hamid, ia mengambil rokok dan pergi keluar untuk merokok.

Hamid duduk didepan bangunan itu, sambil menatap langit malam yang penuh bintang dan dihiasi oleh dua bulan yang berbeda warna, sebagai tanda bahwa ia dan kawannya sedang berada di dunia lain.
Ia menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam serta mengeluarkan asapnya dengan irama yang mengikuti desiran angin malam.

Hembusan angin mencerai-beraikan asap rokok yang tebal, membuatnya hilang tak berbekas.
“…langit ini… Seakan-akan aku pernah melihanya sebelumnya… Ini terasa seperti Deja Vu.” ucah Hamid dalam hatinya.

Ia menghisap rokoknya sekali lagi dan menghembuskan asapnya.
“…ah.. Ya, gadis itu.. Yang selalu muncul dalam mimpiku saat aku dalam keadaan PTSD(*)… Langit ini membawa lagi mimpi-mimpi itu..”
Tatapannya menembus langit berbintang membawanya pada kenangan masa lalunya.

Sambil merokok, ia membuka lagi memori itu. Ingatan tentang seorang gadis berambut pirang panjang sepinggang dengan mata indah berwarna biru kehijauan serta telinga yang runcing, sangat mirip karakteristik ‘elf’ dalam kisah-kisah fantasi yang sangat senang ketika memandang ke langit.

Dan mimpi-mimpi itulah yang membuatnya bangkit dari mimpi buruk dan PTSD yang menimpanya beberapa tahun lalu.

Tak terasa, rokok ditangannyapun sudah habis.
Ia kemudian mengambil HP didalam kantung jaketnya dan melihat jam tertera pukul 19.28 WIB.

“..hmph.. Masih siang ternyata..” ia melihat ke arah temannya yang tengah berselancar di dunia mimpi mereka masing-masing.
“Yeah.. Saatnya tidur..” Ia berdiri dan berjalan untuk mengambil kantung tidurnya.

Ia membungkus dirinya dengan kantung tidur itu seperti kepompong.
Mencoba merilekskan tubuhnya, ia pun memandang langit-langit bangunan diatasnya.

“aku ingat, saat aku berhasil bangkit dari PTSD, aku bersumpah dan berdo’a pada Tuhan untuk menemukan gadis itu… Mungkin sekarang do’a ku dikabulkan… Yeah, mungkin..mungkin…”
Ia memejamkan matanya dan membiarkan ombak membawanya kedalam lautan mimpi.
Serta mengharapkan keberkahan Tuhan untuknya di esok hari.
[bersambung]
==
(*) Post-Traumatic Stress Disorder
adalah kondisi kejiwaan yang dipicu oleh kejadian tragis yang pernah dialami atau disaksikan.
Selebihnya cari di google