Prolog Singkat

“…..Satu lagi hari menyedihkan yang harus kuhadapi…” gumam seorang pemuda berpenampilan sekitar 20-tahunan yang mengenakan pakaian lusuh dan baru saja bangun dari tidurnya.
Hamid, itulah nama pemuda tersebut.
Mengusap wajahnya yang masih terlihat mengantuk, pemuda itu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah membuasuh wajah kantuknya dengan air, pemuda itu menatap cermin dihadapannya.
“… Kau tidak banyak berubah ya, pak tua.. Hanya kumis tipis yang tumbuh membuatmu sedikit berbeda dengan beberapa puluh tahun lalu..”
Ia berbicara sendiri selagi menatap wajahnya dicermin dengan mata yang layu dan setelah itu, ia melaksanakan bisnis hariannya.
Setelah beberapa saat dan setelah melaksanakan bisnisnya di kamar mandi ia pun berganti baju dan berjalan keluar dari rumah kecilnya itu untuk menghirup udara segar.
Hawa pedesaan terasa hanya dari udara yang terhirup, angin berhembus lembut membawa kabut yang turun semalam dan suara ayam jantan saling bersahutan menghangatkan suasana pagi pedesaan yang damai.

Dan tiba-tiba, ponsel Hamid pun bergetar tanda panggilan masuk.
Ia mengambil ponsel dari kantung celana trainingnya dan menjawab panggilan itu.
“Halo.. Bang? ada apa?…. Tenda dan alat camping? Ada disini… Oh baiklah…. kau berencana untuk mendaki Gunung Salak? Hmm…. Baiklah-baiklah, aku segera kesana setelah persiapan, El Psy Congroo(*)”
Hamid menutup teleponnya dan berjalan kembali ke rumahnya.
Yap, panggilan tadi datang dari temannya, mengajaknya untuk mendaki gunung.
Setelah panggilan itu, ia pun mempersiapkan apa yang harus dibawa olehnya termasuk alat keselamatan serta baju cadangan dan memasukkannya kedalam tas.
“*sigh*… Kurasa akan ada hal menarik dalam pendakian kali ini…” ia melenguh dan bergumam selagi ia membuka laci lemari dan mengambil ‘senjata’ kesayangannya.
Senjata berupa pistol revolver S&W 500 hasil jerih payahnya menambang bitcoin di internet bersarang dalam laci lemari tua yang keropos.
Ia pun mengambilnya dan memasukkannya kedalam tas sebagai persiapan terakhir.
Setelahnya, ia berjalan keluar rumah sambil membawa tas dan mengunci rumah kecilnya. Dan ia pun berjalan menuju tempat teman yang menelponnya.

Chapter 1

“*sigh* akhirnya kau datang juga…” ucap seorang pemuda berambut ikal dan bermata hitam yang mengenakan t-shirt dan celana kolor pada Hamid yang berdiri didepan pintu.
Dari penampilannya, pemuda bernama Lutvi ini dua atau tiga tahun lebih tua dari Hamid.
“Baiklah aku masuk… Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?”
Tanya Hamid selagi ia berjalan masuk menuju ruang tamu.
Ia duduk bersila diatas karpet anyaman dan menaruh tas disisinya.
“Kurasa aku sudah mempersiapkan semuanya… Tinggal menunggu anggota lain untuk datang kesini. Hey, kau mau teh atau kopi?”
Balas Lutvi yang berjalan menuju dapur dan menawarkan minuman pada Hamid.
Pada dasarnya, Lutvi hidup sendiri setelah orang tuanya meninggalkannya sejak masih SMK.
Lutvi adalah kakak-kelas Hamid saat SMK serta salahsatu teman seperguruan pencak silatnya.
Ia merupakan pria mandiri yang bahkan segala keperluan hidupnya ia urus sendiri.
“Seperti biasa, kopi hitam tanpa gula… ngomong-ngomong, siapa lagi yang akan datang?”
“….Sudah kubilang kan, hanya kita bertiga.. Aku, kau dan Hasbi….” Lutvi keluar dari dapur membawa kopi dan meletakannya di depan Hamid, ia pun ikut duduk bersila saling berhadapan dengan Hamid sambil menikmat sebatang rokok ditangannya, ia menghirup rokoknya dan mengeluarkannya dengan lenguhan dalam lalu melanjutkan “Lagipula, mungkin ini pertemuan terakhir kita sebagai sahabat..”
“Heeh? Jangan mengibarkan death flag seenaknya, tahu.. Lagipula kau takkan kemana-mana, kan?”
Hamid menyeruput kopi pahit yang tadi diberikan oleh Lutvi.
Sementara itu, Lutvi melamun dengan wajah suram.
Kemudian ia membuka tas Hamid untuk memeriksa isinya.
“sepertinya… Mulai bulan depan… Aku harus segera merantau ke ibukota.. Dan takkan pulang selama 3-5 tahun kedepan.”
Hamid yang mendengar itu pun tersedak oleh kopi yang ia minum dan membalas perkataan Lutvi.
“hurgh .*uhuk* *uhuk*. Seriusan!? Bukankah kau seharusnya sudah hidup enak di kampung ini?? Dan bukankah kau udah punya kerja paruh waktu di daerah Sukaraja(*)?”
“*sigh* Itu saja tidak cukup… Itulah kenapa aku mengundang kalian kesini adalah untuk mengisi memori tentang kita sebelum aku berangkat… Lagipula, seluruh teman-temanku disini juga merantau ke ibukota…”
“Hm… Jadi begitu, yah.. Apa boleh buat…”
Hamid meneguk kopinya sampai habis, ia pun menoleh ke jendela seolah-olah mencari orang lain tapi sepertinya kampung ini serasa sepi.
Menikmati suasana sepi, Hamid pun sedikit melamun.
Dan sesaat kemudian, Lutvi menegurnya membuatnya kembail ke dunia nyata.
“Hey Mid, kau punya senjata yang bagus..”
“..waahh, i-itu hanya untuk berjaga-jaga, lagipula kenapa kau mengeluarkannya!? Masukkan kembali..!”
“Huahhaha… Ada apa dengan wajah kagetmu itu? Konyol sekai.. Dan apakah ini senjata asli? Hmm.. Hati-hati ketahuan polisi bisa gawat lho..”
“ahahaahhh… Sudah kubilang kan, Itu cuma untuk berjaga-jaga, siapatau ada begal atau binatang buas.. Dan yaa.. Itu senjata asli..”
Hamid terlihat was-was setelah Lutvi mengeluarkan senjata itu.
Lutvi menghela nafas dalam, “hufh… Jaman sekarang mana ada begal di gunung, kau terlalu berlebihan…” ia berkata selagi memasukkan senjata api itu ke tas Hamid

Beberapa saat setelah itu, terdengar suara ketukan di pintu.
Tidak lain dan tidak bukan, itu adalah Hasbi yang datang dengan membawa tas besar.
Hasbi adalah salahsatu teman sekelas Hamid, dan juga teman seperguruan pencak silat dengannya dan Lutvi.
Ia adalah seorang pemuda yang, yahh.. Gak tampan-tampan amat, berambut cepak hitam dan berbadan proporsional usia 19-20, tidak kurus dan tidak gemuk, tidak tinggi tapi tidak pendek. Yah, standar lah untuk orang asia tenggara.
“Kau lama sekali, Hasbi..”
“Maaf bang, aku mencari bekal untuk perjalanan kita dan untuk dipuncak, karena aku dengar kita takkan melewati jalur biasa, jadi apa boleh buat untuk mencari makanan sebelum perjalanan.”
Hasbi menjelaskan dengan nafas terengah-engah.
“Yos, sepertinya hanya tinggal aku saja yang harus bersiap.”
Lutvi pun masuk ke kamarnya.
Ia keluar dari kamarnya dengan mengenakan jaket dan celana jeans terlihat seperti orang yang akan pergi ke tempat wisata.

“Kau terlalu modis, tidak seperti orang yang akan mendaki gunung saja..”
“Heeeh… Daripada kalian berdua yang hanya memakai pakaian lusuh dan celana, kalian malah terlihat seperti pengangguran madesu..”
“Ugh.. Gak segitunya juga lah… Pada dasarnya kau juga tidak berbeda..” Hasbi berkata dengan nada kesal.
“Heey, aku sudah bekerja loh.. Meskipun paruh waktu..” Lutvi bembalas dengan bangga.
Ia menertawakan dan mengejek Hamid dan Hasbi yang hanya memakai pakaian biasa.
Memang sih, harusnya ada pakaian yang khusus untuk mendaki gunung. tapi karena keterbatasan biaya, jadi mereka memakai pakaian apa saja.
“terserahlah, sekarang bukan waktunya untuk saling ejek… Lagipula, hmm.. Baiklah, karena Lutvi yang mengajak kita untuk mendaki, maka kaulah yang akan menjadi pemimpinnya.”
Hamid menunjuk Lutvi yang sedang berdiri menggendong tas.
“*sigh*,.. Baiklah, ayo kita berangkat.”
Dan mereka pun berdiri dan berjalan keluar rumah Lutvi.
Setelah mengunci pintu, mereka berjalan menuju jalan umum yang berada tidak jauh dari rumah Lutvi.

Mereka berjalan menuju jalan raya sambil mengobrol hal-hal tidak penting seperti pacar, anime, game sampai menjurus ke hal-hal berbau jorok. Yahh, namanya juga pemuda.
Sampai pada Hasbi bertanya tentang Light Novel pada temannya.
“Hey mid, apa kau masih membaca Light Novel?”
“Tentu, tapi LN macam apa yang ingin kau bicarakan?”
Hamid menjawab pertanyaan konyol Hasbi tanpa menoleh kearahnya sama-sekali.
“Ah,.. Aku melihat sekarang banyak LN-LN bertema fantasi tentang anak sekolahan yang terjebak di dunia game atau dikirim dewa ke dunia fantasi dan jadi pahlawan dengan kekuatan yang hebat dikerubutin cewek-cewek dan lain sebagainya..”
“…hmmm, lalu?”
“aku… Penasaran, bagaimana jadinya jika aku yang dikirim ke dunia lain dan jadi pahlawan…”
“Huh!?” Hamid dan Lutvi seketika menoleh ke arah Hasbi yang berada disampingnya dengan tatapan bingung.
“Huahahahaha… Hal konyol apa yang kau bicarakan, Hasbi. Jangan jadi delusional deh, yang realistik aja hidup mah…! Hasbi Hasbi, ada-ada saja kau ini..” Lutvi tertawa mendengar Hasbi yang berkata seperti itu.
“Yahh.. Kau tidak akan menjadi apa-apa selain dirimu sendiri, bahkan jika kau dikirim ke dunia lain. Itu saja.. Dan juga ingat, tak ada hal yang seperti itu. Jangan terlalu delusional saat membaca LN wishfulfilment semacam Seni Pedang Diatas Garis atau HP ku dan Dunia Lain…”
Hamid berkata dengan nada santai sembari mengarahkan pandangannya ke jalan.
“Hahaha… Yahh, aku juga tau.. Itu hanya imajinasi liarku saja.. Mana mungkin ada hal seperti itu..” Ungkap Hasbi setelah mendengar reaksi teman-temannya.
Dan akhirnya mereka telah sampai di jalan raya.
Perjalanan mereka ke Gunung Salak pun dimulai.

AAAAA

Gunung Salak

Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka sampai di posko pendakian Gunung Salak Jalur Cimelati.
“Ternyata perjalanan kali ini lancar jaya..~”
Lutvi dengan penuh semangat mengangkat tangannya keatas kepala selagi mengusir lelah mereka bertiga di posko.
“Hey ketua? Apa kita akan mendaki hari ini?”
Tanya Hamid yang tengah mengeluarkan snack dari tas Hasbi, sementara itu Hasbi hanya fokus melihat HPnya saja.
“… Tentu saja, kita tidak bisa menyia-nyiakan waktu… Semoga saja kita sampai di pos untuk membuat tenda.”

“oh gitu… *nom* *nom* twapi kwnapwa kwita tidw.. puh-”

“berhentilah bicara saat sedang makan, dasar tidak sopan..”

“*uhuk* *uhuk* air air.. *glup* *glup* ahh…. Kau bodoh! kau tidak
boleh memukul kepala orang seenaknya!”

“Habisnya kau tak punya sopan santun! Berbicara sambil makan itu dilarang!”

“ugh… Hoi Hasbi, lakukan sesuatu… Jangan hanya berfokus pada duniamu saja..” Hamid mencoba mengalihkan omelan Lutvi dengan menggunakan Hasbi, tapi ia hanya fokus saja pada HPnya.
“Hey… Ketua… Bukankah ini sudah waktunya untuk kita mendaki?”
Hasbi merespon dan menaruh ponselnya ditas miliknya.
“Yap, kurasa juga begitu..” Lutvi memeriksa ponselnya untuk melihat jam.
Setelah itu, mereka bertiga berdiri dari istirahat mereka dan memulai pendakiannya.

Berbagai pemandangan bisa mereka lihat, dari mulai lahan pertanian, villa dan sampailah pada pintu rimba.
Setelah melewati pintu rimba, mereka mulai memasuki hutan dengan kerapatan cukup lebat.
Setelah mereka terus menyusuri jalan selama 4 jam didalam hutan dengan jalur yang lumayan merepotkan meski tidak terlalu ekstrim, sampailah mereka di pos 3 yang areanya berupa tanah dengan akar pohon disekitanya.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 5 sore, terdengar dari suara serangga malam yang mulai bernyanyi dan matahari yang mulai meredup serta kabut yang mulai turun.
Sang ketua; Lutvi, memutuskan untuk mendirikan tenda disini karena akan sangat berbahaya jika terus melanjutkan pendakian dalam kondisi seperti ini.

Setelah mendirikan tenda, mereka pun beristirahat.
Tak terasa, malam pun datang tanpa disadari.
Menenangkan jiwa jiwa lelah dan melarutkan mereka dalam dunia mimpi.
Suara jangkrik-jangkrik dan serangga malam saling bersahutan bernyanyi memeriahkan datangnya malam serta membawa suasana khas alam bebas.
Namun tiba-tiba, suara ledakan terdengar.
Ledakan yang mampu menghancurkan jiwa siapa saja yang terkena karena baunya yang sangat menyengat.
Tidak salah lagi, itu adalah suara ledakan mematikan yang berasal dari perut sang ketua pendakian; Lutvi.
Dan seketika, suara gaduh terdengar dari dalam tenda.
Suara jeritan tersiksa dari Hamid dan Hasbi menggema dalam hutan lebat mengalahkan suara-suara jangkrik yang bernyanyi.

“Setan!! Bau setan!!!”
“ughh… Bau! Kau yang terburuk!!”
Kedua pemuda itu hanya bisa menggerutu dan keluar tenda karena tak tahan dengan baunya.
Sementara pelakunya hanya tertawa terbahak-bahak menyaksikan teman-temannya tersiksa.

Beberapa saat kemudian, suasana pun menjadi tenang dan mereka pun menghabiskan malam dengan damai.
Keheningan malam membawa mereka larut dalam dunia mimpi.
Membawa jiwa-jiwa lelah kedalam lautan ketenangan.
Meregenerasi tubuh-tubuh yang layu menjadi bertenaga.

Dan pagi pun tiba tanpa ditunggu.
Mentari terbit membelah kegelapan malam membawa semangat kehidupan bagi makhluk yang ingin hidup.
Angin gunung membawa hawa dingin yang menusuk tulang dengan desiran lembut.
Begitu pula suara burung-burung dan hewan-hewan liar yang memecah keheningan hutan yang menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Ketiga pemuda yang tidur didalam tenda pun terbangun dari istirahat malam seiring dengan datangnya pagi hari.
Cuaca cerah dengan sinar matahari terbit yang masuk melalui celah-celah dedaunan.
Mereka bertiga membereskan apa yang harus mereka bereskan dan melanjutkan perjalanan mereka ke puncak yang dituju.
Mereka terus berjalan melewati jalan setapak menyusuri hutan lebat yang seolah tak berujung sambil menikmati irama menenangkan alam liar.
Namun tiba-tiba, sang ketua; Lutvi menyadari sesuatu.
Ia terdiam membatu seolah fikirannya hilang entah kemana.
“Ada apa, ketua?” tanya Hamid yang melihat keanehan di ekspresi sang ketua pendakian berubah tiba-tiba.
namun sang ketua hanya diam saja seolah-olah tidak mendengarkan.
“Bang, kau kenapa?” Hasbi pun mencoba menyadarkan sang ketua dari lamunannya.
Tapi hasilnya sama saja, ia tak bergerak sama sekali, menyebabkan kedua pemuda itu panik karena menganggapnya kesurupan.
Dan kemudian sang ketua berbicara dengan suara kecil.
“…su…dah… Berapa lama…kah… kita berjalan…?”
Dan ia pun berjongkok di jalan setapak itu.
“…ahh, akhirnya kau sadar juga… Huff kau ini, aku benar-benar kaget.. Kusangka kau kesurupan dan…” Hamid yang mendengar pertanyaan Lutvi dan menjawab dengan gembira seolah suara itu memecah kekhawatirannya selagi tangannya mengambil HP dikantung celananya, namun ia pun terdiam sejenak setelah melihat HPnya.
“Uh, hmm… Hey, Hasbi… Sudah berapa lama kah kita berjalan menyusuri hutan ini?”
Hamid bertanya pada Hasbi disebelahnya, Hasbi pun mengambil HPnya dan melihat jam.
“…uhmm, pagi tadi kita berangkat dari pos 3 jam 7.46 dan kita sudah berjalan…. tiga…jam..” Ekspresi Hasbi pun berubah seketika saat melihat jam di HPnya.
“Ini… Sangat gawat… Benar-Benar… Gawat” Lutvi bergumam.
“He-y.. Ketua, tolong tenangkan dulu dirimu..” Hamid mencoba menenangkan sang ketua yang mulai terguncang.
“…Tidak mungkin diriku tenang, mid… Kita berada di hutan lebat dengan sedikit persediaan makanan dan air… Ini… Mengerikan”
“..oh Ayolahh.. Kemana skill bertahan hidup yang dipelajari saat kita sekolah dulu!? Jangan menyerah hanya karena kita terjebak di hutan ini! …. Hasbi, cepat kirim SMS untuk meminta pertolongan!”
Hamid mulai berkata tidak jelas untuk menenangkan Lutvi dan memerintah Hasbi, sementara Hasbi mengayunkan HPnya mencari sinyal.
Tap semuanya seperti sia-sia.
“Hey.. Mid, bukankah seharusnya sinyal Kartu Sim Ajis bisa mencapai pos 5? Tapi, kenapa ini diluar jangkauan ya?”
“…Aku… Tidak tahu…” Hamid memegang kepalanya dengan ekspresi kebingungan dan duduk diatas tanah seperti Lutvi, kemudian Hasbi pun mengikuti.
Untuk beberapa saat, kebingungan dan kecemasan menelan ketiga pemuda ini.
Tidak menyisakan apapun kecuali kesunyian.
Tapi tiba-tiba Hamid berdiri “Memang, kita terjebak… Tapi bagaimanapun.. Kita tidak boleh berdiam diri disini!” cahaya dimata Hamid kembali menyala berusaha menyemangati kedua temannya yang sudah loyo.
Hamid mulai mengoceh untuk membangkitkan semangat kedua temannya itu.
Meski pada awalnya terlihat tidak berpengaruh, tapi sepertinya lama kelamaan mereka terpengaruh oleh ocehan Hamid.
“….Kau benar…. Kita tidak boleh mati disini…”
“…Yeah..”
Hasbi dan Lutvi mendapatkan kembali semangatnya, mereka akhirnya memantapkan diri untuk tetap berjalan meski ada resiko yang harus mereka hadapi.

AAAA

Hutan begitu lebat, jalanpun sudah sulit dilalui karena akar pohon dan tumbuhan yang menghalangi.
Menerobos hutan, ketiga pemuda itu pun mulai kelelahan karena medan yang sulit dan air yang terbatas.
Tiga jam mereka berjalan, tapi tidak menemukan apapun yang berarti.
Malah hutan semakin lama semakin bertambah lebat dengan pohon pohon besar.
Mereka memutuskan untuk istirahat sejenak.

“….hei, apa kalian dengar itu!?” Hamid mendengar sesuatu.
“..hmm..*glup* *glup* ..dengar apa? Hey, sabarlah dulu.! *glup* *glup* Nih…” balas Lutvi sedang meminum air dari botol dan menjauhkan Hasbi yang berusaha meraih botol itu.
“…hey, bagi dong… Ah.. Makasih.. Hm, apa mid? Aku tidak dengar apapun..”
Hamid menunjuk ke arah suara itu datang “Itu…. Itu suara aliran air sungai!”
Ia langsung berdiri dan berlari menuju sumber suara tersebut.
“huh… Hey tunggu mid…”
“…mid, huhh…. Dia gak ada capek capeknya, langsung lari aja tuh anak..”
Hasbi dan Lutvi yang melihatnya mencoba mengejarnya, tapi karena kondisi mereka yang kelelahan pada akhirnya tidak terkejar.
Hamid terus berlari menembus hutan menuju arah suara yang ia percaya adalah suara aliran air sungai.
Suara itu semakin membesar dan membesar, memberikan harapan yang menggebu pada hati Hamid.
Cahaya di ujung sudah terlihat, menciptakan rasa senang tak terkira pada Hamid.
Ia berlari, terus berlari menuju cahaya di ujung pandangannya.
Namun, ia berhenti dan berlutut ketika sampai disana.
Ia merasa kecewa.
Ia kecewa bukan karena merasa tertipu oleh alam, yah.. Itu memang sungai. Tapi, ada didasar ngarai.
Seluruh semangatnya pudar seketika.
Sesaat kemudan, teman-teman Hamid datang dengan ekspresi kelelahan.
“Hufh.. Melelahkan… Tapi disini.. Pemandangannya indah juga ya..”
Ucap Lutvi yang menghampri Hamid dan duduk disebelahnya, dan Hasbi pun mengikutinya.
Mereka bertiga beristirahat di atas tebing sambil melihat pemandangan yang mengagumkan.
“Hoy, kalian udah makan, kan? Kalo udah berarti ini buatku.”
Lutvi mengambil Mie Sedap rasa Soto dari dalam tas Hasbi yang tergeletak disisinya.
“…hey! Itu tidak adil, ketua! Mie Sedap Soto ini punyaku, kau sudah memakan punyamu sendiri saat sarapan tadi pagi… Dan lagi kita ini belum makan siang!”
Hamid yang jatah mie nya diambil merasa tidak senang dengan tingkah sang ketua.
“Ya itu salahmu sendiri yang terus-terusan bengong kaya orang bego.. Hoy Hasbi! Kemarilah dan ayo makan siang!”
“..yaa… Nanti aku nyusul.”
“sheeessh… Dia malah fokus foto-foto. Kayak anak alay aja.” Lutvi bergumam setelah mendengarkan balasan dari Hasbi yang tengah sibuk berfoto-foto.
“Ketua! Jangan coba alihkan topik pembicaraan!”
“uh.. Apaan kau ini, jangan teriak-teriak atuh… Lagian kalian yang tidak mengambilnya lebih dulu… Uhm, yah baiklah…. Hamid, kau mau makan tidak? Kalo mau keluarkan alat-alat masaknya atuh.. Jangan pundungan, lagian masih ada mie rasa yang lain.”
“Gaah.. Terserahlah!”
Hamid mengambil alat masak seperti panci kecil dan kompor portable seperti yang sering dipakai oleh para pendaki gunung serta mengambil air mineral botol besar dari dalam tasnya kemudian memberikannya pada Lutvi.
Lutvi memasak mie nya dan memakannya dalam kaleng, lalu giliran Hamid memasak mie.
“…oh, jadi mana punyaku, gak dibikinin nih?” Hasbi datang tiba-tiba, mungkin ia tertarik setelah menghirup harumnya bumbu mie.
“uny…*slurp* kau buat sendiri atuh.*slurp* *slurp*” Lutvi membalas ucapan Hasbi dengan seruputan mie.
“dasar kau manja” Hamid bergumam tanpa terdengar siapapun sembari membawa mie nya yang masih panas dan duduk menghadap pemandangan.
Hasbi yang terlihat sedikit kecewa akhirnya memasak mie nya sendiri.
Pada akhirnya, mereka bertiga memakan mie mereka masing-masing tanpa konflik apapun.
Desiran angin berhembus membawa rasa sejuk meskipun tepat dibawah matahari siang bolong yang lumayan menyengat kulit.
Suara gemerisik aliran sungai dibawah tebing membawa ketenangan pada hati tiga pemuda yang gundah gulana.
Hasbi mulai berfoto ria kembali sementara Lutvi mengambil rokok dan menyalakannya untuk menenangka diri.
Berada di tempat antah-barantah membuat ketiga pemuda ini kebingungan dan panik.
Meski begitu mereka tetap mencoba menangkan dirinya sendiri sesegera mungkin.
Kemudian, Hasbi yang sedang berfoto melihat sesuatu di kejauhan.
Ia melihat sesuatu yang aneh pada suatu bukit yang lumayan jauh.
“…He-y… Ketua, bukankah itu sesuatu yang aneh…”
Hasbi menunjuk pada objek aneh itu.
Lutvi dan Hamid mengalihkan pandangannya pada tempat yang ditunjuk oleh Hasbi.
“…itu….”
“…mustahil!!…..ini mustahil!… Hal seperti itu bukanlah…. Sesuatu yang seharusnya ada di negeri kita! Apalagi di zaman modern ini… Ini… Tidak masuk akal…”
Hamid dan Lutvi terperanjat dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, yah.. Itu adalah reruntuhan dari sebuah kota dengan gaya eropa abad pertengahan.
“Apakah… ini berarti… Kita ada di dunia lain, ketua?”
“….” Lutvi menggelengkan kepalanya. “kita tidak tahu… Kita tidak akan tahu sebelum menyaksikannya dari dekat.. Ayo kita periksa kesana!”
“..Tapi ketua, bukankah lebih baik untuk kita jika tidak kesana? Mungkin disana ada bahaya yang mengintai..”
“sudah kubilang, kan? Kita tidak tahu apapun jika kita tidak melihatnya kesana… Hamid, bagaimana menurutmu?”
“Hmm.. Yah, ini juga merupakan suatu petunjuk untuk kita tentang dimana sebenarnya diri kita berada…jadi.. ayo kesana!”
Hasbi yang merasa tidak enak terpaksa harus mengikuti kedua temannya itu.
Lutvi, diikuti oleh kedua kawannya akhirnya memutuskan untuk menuju tempat itu.
[bersambung]
====
((*)1. Kalimat kesukaan Hououin Kyouma di anime Steins;Gate)
====
Yah, cerita ini hanya keisengan ane yang entah mau nulis apa :mrgreen: karena blog yang dulu udah gak support lagi dan ditutup (lol).
Yah.. Cerita ini mengisahkan petualangan tiga pemuda, yang tidak terlalu muda juga :v gimana ya ngejelasinnya, yahh bisa dibilang pemuda tanggung lah yang nyasar di tempat antah-barantah dan mencari jalan untuk kembali ke dunia asal mereka.
Ini cerita remake dari cerita di blog yang dulu, karena menurut ane kurang mengena petualangan, komedi, konflik dan parodinya, serta sistem world yang terlalu game-like serta karakternya yang agak membosankan :v jadi terkesan terlalu mediocre.
Yah, anggap aja ini Konosuba ketemu Grimgar dengan setting fantasi gelap serta memparodikan animanga dan fantasy trope yang sudah banyak tersebar dalam light novel bertema ‘Nyasar ke dunia laen’.
Enjoy. Hamid memegang kepalanya dengan ekspresi kebingungan dan duduk diatas tanah seperti Lutvi, kemudian Hasbi pun mengikuti.
Untuk beberapa saat, kebingungan dan kecemasan menelan ketiga pemuda ini.
Tidak menyisakan apapun kecuali kesunyian.
Tapi tiba-tiba Hamid berdiri