Jurus Pertama – Pemuda Biasa & Nama Rahasia

Bagian 1

Jantung Retsu berdebar kencang.

Suasana kelas yang gaduh membuatnya tidak tenang.

Bagaimana mungkin siswa-siswi itu berwajah senang? pikirnya.

Hari ini adalah hari penentuan. Nama baik siswa akan dipertaruhkan. Sebentar lagi, surat kelulusan akan segera dibagikan.

Teman sebangkunya yang bernama Dio (Brando :v) ex. Walter malah asik membaca komik Piro Sableng. Ia tak mempedulikan peraturan sekolah karena hari ini ia yakin akan lulus. Bahkan jika komiknya dirampas sekalipun, hari ini pula ia bisa mengambilnya.

Retsu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia berharap cara ini bisa menurunkan ketegangannya.
Selagi ia melakukannya, tanpa sengaja Dio mulai memerhatikan.

“Siki, wajahmu terlihat tegang. Apakah kamu sedang membayangkan hal mesum?”

Mungkin, Dio hanya ingin bertanya sambil mencairkan suasana. Namun hal itu malah membuat Retsu semakin terganggu. Terlebih lagi, Dio selalu bersikap santai saat berbicara dan itu menambah rasa jengkel di hatinya.

“Tentu saja tidak!” bentak Retsu. “Kenapa kamu tidak pernah memanggilku dengan sebutan nama? Dan lagi, apa itu Siki?”

Dio menutup komiknya lalu menjawab, “Mungkin julukan Kamseupay terlalu panjang bahkan aku sudah mulai bosan-”

“Jika begitu panggil saja aku dengan sebutan nama!”
potong Retsu namun Dio tak acuh.

“Aku sudah semalaman memikirkannya, sampai-sampai aku mencarinya di kamus untuk memperkaya kosa kata-”

“Aku tidak peduli! Buat apa juga kamu harus membuka kamus semalaman jika hal itu kamu pakai untuk menghina orang?!”

Retsu berkomentar namun Dio terus berbicara.

“Kamu tau, akhirnya aku berhasil menemukan nama julukan yang bisa menggambarkan dirimu secara keseluruhan. Nama julukan yang paling cocok denganmu adalah Siki, singkatan dari si kikuk.

“Pada akhirnya, kamu hanya mencari kesempatan untuk memuaskan dirimu sendiri dengan cara menghinaku. Dasar brengsek.”

“Tenang saja,” ucap Dio dengan santai. “Selama tidak ada yang tau kepanjangannya, semua orang akan menganggap nama julukanmu sebagai susunan kartu capsa.”

Retsu mengangguk. “Oh, benar juga ya-tidak, tidak, tidak. Bagaimanapun juga, itu tetaplah buruk. Apa susahnya memanggilku dengan nama asli?”

“Nama asli? Bahkan kamu sendiri bilang kalau namamu yang sekarang ini hanyalah julukan.
Bukankah itu artinya kamu berusaha menyembunyikan nama aslimu dari semua orang? Terlebih lagi, nama Retsu tidak cocok dengan wajahmu yang lokal.”
(TL : Seolah-olah terkesan jejepangan :v )

“Nama julukan ini berasal dari keluargaku bahkan sudah tercatat di kartu keluarga. Secara tak langsung nama itu sudah jadi nama asliku sekarang.”

“Masalahnya bahkan kamu sendiri telanjur memberitahukan padaku kalau namamu itu hanyalah julukan. Lalu apa untungnya kamu menyembunyikan hal itu jika semua orang tidak percaya dengan namamu yang sekarang?”

“Oh, benar juga ya-tidak, tidak, tidak.” Hampir saja, Retsu sependapat dengan Dio. Namun hal ini memang salah Retsu sendiri, seharusnya ia tidak pernah membahas soal nama julukan itu pada siapapun. “Hanya karena kata-katamu itu masuk akal. Bukan berarti aku mau menerima julukan konyolmu. Ini sudah tradisi turun temurun yang wajib kujaga. Tujuannya hanya satu yaitu menjauhkan diri dari kemalangan.”

“Bukankah selama ini nasibmu selalu diselimuti oleh kemalangan?”

“Oh, benar juga ya-tidak, tidak, tidak. Ayahku selalu berpesan, jangan biarkan alam mengenalmu, maka ancaman akan menjauh darimu. Meski kemalangan masih menimpaku, itu tandanya aku berhasil lolos dari malapetaka yang lebih besar.”

“Setidaknya kamu bisa memberitahukannya padaku. Bukankah kita ini teman?”

Retsu tau kalau Dio sedari dulu penasaran sekali dengan nama aslinya. Namun Retsu tidak boleh terjebak oleh kata pertemanan karena ini sudah jadi tradisi keluarganya.

“Kan sudah kubilang kalau itu tidak mungkin kulakukan.”

“Hmmm, begitu ya.” Dio menopang dagu seperti sedang memikirkan suatu hal. “Bagaimana jika apa yang dikatakan ayahmu itu benar?”

“Hah?” Harusnya Retsu senang mendengar pengakuan itu. Namun entah kenapa ekspresi Dio yang berubah serius membuat Retsu bertanya-tanya. “Kenapa kamu malah mempertanyakan hal itu?”

“Jika kata-kata ayahmu itu benar, maka tidak hanya kemalangan yang menjauh darimu, melainkan keberuntungan juga.”

“Oh, benar juga ya–tidak, tidak tidak.” Retsu tidak bisa memungkiri bahwa ucapan Dio semakin masuk akal. Jika ia tidak meningkatkan pertahanan dirinya mulai sekarang, mungkin nama aslinya akan bocor kemana-mana. “Itu tidak benar, Dio. Kata ayah, dengan menyembunyikan nama asli, kita memiliki kesempatan untuk menggerakkan roda nasib kita sendiri.”

“Lantas apa bedanya dengan mereka yang menggunakan nama aslinya? Mereka juga memiliki kesempatan yang sama kan?”

“Oh, benar juga ya-tidak, tidak, tidak. Aku tau kamu sedang berusaha merusak logikaku dengan kata-katamu yang logis.
Bagaimanapun juga, aku akan terus menjaga budaya keluargaku. Bahkan menyebut nama asli pada keluarga sendiri bisa berakibat fatal.
Mungkin ayahku adalah seorang penyabar, namun kakakku memiliki sikap keras dan suka memukul.”

“Oh, aku jadi ingat sekarang. Bukankah kamu punya kakak yang montok. Siapa namanya?”

“Kimed,” jawab Retsu sambil menatap sinis.

“Bukankah kakakmu itu orang pulau Oda?”

“Ya, ibu dan kakakku memang keturunan Oda tapi keduanya terlahir di kota Hero. Kenapa memangnya?”

“Bolehkah aku meminta foto kakakmu untuk-”

“Kamu akan terbunuh sebelum melakukannya,”
potong Retsu dengan suara dingin.

“Dasar pelit. Padahal jika kamu mau memberikannya, aku akan berjanji akan memanggilmu dengan sebutan nama.”

“Aku tidak peduli dengan tawaran konyolmu itu karena nyawaku sendiri jauh lebih penting. Aku lebih baik terhina daripada harus berurusan dengan kakakku yang kejam itu.”

“Jika kamu sudah berkeyakinan seperti itu, aku tidak bisa mengganggunya lagi. Julukan Siki memang cocok denganmu.”

“Kamu memang brengsek,” hina Retsu dengan mata sinis. “Sekarang aku sudah tau niatmu. Sejak awal kamu memang mengincar foto kakakku kan?!”

Tiba-tiba, wanita di meja sebelah mendesah lalu berseru, “Pagi-pagi sudah berisik dan terus membicarakan hal-hal yang tidak penting.
Kalia minta dihajar ya?”

Wanita yang matanya sedang bersinar keemasan itu bernama Zoe ex. Freya. Secantik apapun parasnya, wanita ini memiliki kekuatan besar yang mengerikan.