Ambang Batas 2 Newtype – Prolog

[Buku 1 dan buku 2 beda tokoh utama. Tidak perlu baca secara urut]

Novel by Ten Lite Novel

Sains memang tidak pernah mengenal kata puas.

Cindy Dephika baru saja kembali dari rapat kerja bersama para petinggi kota Batavia. Ia membawa tumpukan kertas yang berisi proposal penelitian sambil menatap sinis pada rekannya sesama ilmuwan.

“Proposal penelitian macam apa yang kau buat ini?!”

Cindy membanting proposal penelitian ke meja rekannya. Ekspresi wajahnya bercampur aduk, antara ingin marah dan menangis.

“Memang ada apa dengan proposal buatanku?”

Pria dengan sikap santai itu adalah seorang jenius yang pemikirannya susah untuk dinalar.

“Saya benar-benar dipermalukan oleh isi proposalmu ini. Para petinggi kota Batavia mengatakan kalau saya lebih cocok menjadi novelis daripada menjadi seorang ilmuwan. Mereka benar-benar kecewa padaku gara-gara proposal buatanmu.”

“Memang apa yang salah? Bukankah hidup sehat hingga akhir hayat adalah idaman semua mahkluk hidup?”

Ilmuwan jenius itu bernama Issac Segara. Cindy menyesal telah menyerahkan tugas penting tersebut padanya.

“Saya meminta dirimu untuk membuat proposal penelitian, bukan cerita romansa yang diberi judul sains supaya terlihat keren.”

“Setidaknya tulisanku ini jauh lebih ilmiah daripada novel yang kau sebutkan barusan.”

“Itu sama buruknya Issac. Asal kau tau saja, saya menghabiskan waktu tiga hari untuk membaca novel pemberianmu itu. Novel itu terus kubaca dengan harapan ada paparan sains di dalamnya. Kau tau apa hasilnya?”

Issac menggelengkan kepala.

“Tidak ada bahasan sains sama sekali. Apa kau tau itu? Saya sampai tidak sempat memeriksa proposalmu gara-gara itu. Jangan bilang kalau kau sendiri belum sempat membacanya lalu meminjamkannya padaku?”

“Review dari para fans mengatakan kalau itu novel fiksi ilmiah.”

Cindy meremas kedua tangannya karena kesal.

“Fiksi ilmiah kepalamu?! Apakah mereka tidak tau perbedaan antara romansa dengan fiksi ilmiah?”

“Mungkin kau perlu membedakan antara fiksi ilmiah dengan jurnal ilmiah.”

“Jangan coba-coba menyalahkan diriku. Mulai sekarang saya tidak akan membaca novel berjudul sains darimu lagi.”

“Bukankah itu salahmu sendiri yang selalu penasaran?”

“Tentu saja saya penasaran. Itu adalah dasar dari ilmuwan yang baik. Penasaran terhadap segala hal. Sekarang saya ingin mendengarkan idemu perihal pengembangan proyek Linx.”

Cindy adalah seorang ahli genetika sekaligus pemimpin proyek Linx. Dalam proyek tersebut, Cindy berhasil mencangkok DNA esper ke DNA manusia.
Berkat keberhasilannya tersebut, pasukan militer Batavia memiliki satu kemampuan esper yang disebut ESP. Semua berjalan lancar pada awalnya. Cindy tidak menemukan efek samping dari penemuannya tersebut. Namun menggunakan ESP terlalu banyak ternyata bisa meningkatkan suhu tubuh penggunanya, fenomena ini tidak pernah terjadi pada para esper. Kenaikan suhu ini sangat membahayakan tubuh subjek penelitian. Satu orang tewas karena terbakar, kemudian satunya lagi meninggal karena meleleh.

Sejak kejadian itu, individu hasil dari penelitian Cindy tidak mungkin disebut esper. Mereka adalah Linx. Kelemahan dalam penelitian Cindy ini berpotensi menjatuhkan namanya. Oleh karena itu, ia meminta Issac untuk bergabung dalam penelitiannya. Kejeniusan Issac rupanya berhasil menyelamatkan proyek Linx.
Issac membuat serum penekan hawa panas yang diberi nama depressor. Berkat serumnya tersebut, Linx bisa menambah kuantitas ESP dalam medan pertempuran. Namun pemakaian serum secara terus menerus menimbulkan efek imun.

“Cindy, serum depressor yang kuciptakan itu tidak mungkin disempurnakan lagi.”

“Tidak mungkin? Kau hanya belum menemukannya saja. Kita masih bisa menyelesaikan teka-teki ini bersama-sama.”

“Apa yang saya ciptakan itu tidak ada bedanya dengan memberi penahan rasa sakit pada orang patah tulang. Saat efeknya habis. rasa sakit itu akan datang kembali. Jadi masalahnya bukan pada serumnya, tapi dari proses pemetaan DNA itu sendiri.”

“Itu tidak mungkin, Issac. Informasi dari pemetaan DNA memiliki akurasi 95%. Jika ada kesalahan pada proses tersebut, setidaknya akan ada satu orang yang berhasil, kan?”

“Akurasi sebesar 95% itu hanya berlaku pada manusia, bukan pada esper. Meski kau bisa memetakan DNA esper sekalipun, bukan berarti kau bisa menurunkan seluruh sifatnya pada manusia. Ada sesuatu yang tidak bisa dideteksi oleh kecanggihan Batavia, itu adalah faktor G.”

“Kumohon jangan bahas itu lagi, Issac.”

Meski Issac adalah seorang ilmuwan jenius sekalipun, Cindy tidak menyukai sifat Issac yang satu ini. Cindy tidak pernah percaya dengan faktor G atau God factor karena hal itu sering dipakai oleh para ilmuwan lain untuk alasan pembenaran.

“Saya tidak bermaksud untuk melemahkan dirimu. Kita harus merumuskan batasan penelitian.”

“Ini tidak semudah kau pikirkan, Issac. Apa karena saya sudah menuliskannya lantas mereka bisa menerimanya begitu saja? Apakah seorang bos tidak akan meningkatkan target penjualan pada marketing yang berhasil menembus omset?”

Issac menghela napas.

“Mungkin masih ada satu cara untuk memperbaiki proyek Linx.”

Cindy membelalakkan mata. “A-Apa itu? Cepat katakan.”

“Kau harus membantuku terlebih dahulu dalam proyek Nexus.”