Ambang Batas 2 Newtype

Novel by Ten Lite Novel

Bagian 1

“Perhatian pada semua penumpang, pesawat akan sampai pada titik tujuan. Periksa seluruh perlengkapan sebelum terjun menggunakan jetpack.”

Setelah mendengar pengumuman tersebut, seorang pria dengan pakaian tempur futuristik berdiri dari tempat duduk. “Semua pasukan, cepat bersiap! Persiapkan seluruh mental kalian karena misi kali ini tidak boleh ada yang selamat. Semua ilmuwan, data beserta subjek penelitian harus dimusnahkan. Kalian paham?!”

Seluruh pasukan militer berdiri dan memberi hormat. “Siap, Pak!”

“Buka pintunya!” perintah sang ketua regu pada sang pilot.

Angin kencang masuk ke badan pesawat ketika pintu belakang terbuka. Semua pasukan militer mulai terjun satu persatu kecuali seorang wanita yang duduk di pojokan.

Wanita dengan pakaian ketat dengan helm gelap itu adalah seorang agen. Karena perlengkapan si agen tidak dilengkapi jetpack, ia terpaksa menunggu pesawatnya mendarat. Lokasinya yang berada di tengah hutan menyebabkan si agen harus berjalan sejauh 500 meter hingga menemukan sebuah benteng. Ia tidak melihat siapapun di bagian area luar karena pasukan militer sudah sampai terlebih dahulu.

“Hah, saya lelah.”

Sang agenpun mengeluh namun ia harus segera menyusul pasukan lainnya. Suasana di luar benteng sangat sepi sampai-sampai ia bisa mendengar napas dan suara langkahnya sendiri. Mode penglihatan malam dan pendeteksi panas tubuh pada helmnya tidak menangkap apapun. Ini sungguh aneh, pikir sang agen. Meski tembak laser pasukan militer tidak menimbulkan suara, setidaknya jeritan para ilmuwan yang meregang nyawa akan terdengar dari luar.
Apakah ia seterlambat itu? Ia bertanya pada diri sendiri sambil memasuki benteng.

Bagian luarnya yang sudah kusam dan berlumut merupakan kamuflase yang baik, begitu juga bagian dalamnya. Andaikan sang agen tidak melihat secercah cahaya yang berasal dari dalam sumur, mungkin ia akan tersesat. Di dalam sumur tersebut terdapat sebuah tangga dan lorong. Suara pasukan militer yang selalu bernada tinggi juga belum terdengar. Tiba-tiba ia merasa suasananya semakin mencekam. Ia menyusuri lorong sambil terus waspada. Lorong yang ia lewati rupanya terhubung dengan sebuah ruangan berlantai putih.
Ruangan bawah tanah ini sudah dilapisi dinding besi dengan berbagai sudut. Jelas bukan waktu yang singkat untuk membuatnya.

“Itu …” Tubuh sang agen tiba-tiba berhenti bergerak.

Puluhan ilmuwan dan pasukan militer sudah tergeletak di lantai. Ia memeriksa satu persatu dan tidak ada satupun yang selamat. Semua tewas namun bukan di tangan pasukan militer. Pada dinding bangunan memang ada bekas tembakan laser, tapi tidak ada satupun yang mengenai para ilmuwan. Tembakan pasukan militer tidak mungkin meleset.

“Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?”

Semuanya tewas akibat tabrakan kuat dari benda tumpul. Pukulan tersebut pastilah sangan kuat karena bisa menghancurkan pakaian tempur canggih ciptaan kota Batavia. Perlengkapan yang dipakai oleh pasukan militer itu bernama powersuit. Pakaian tempur tersebut meningkatkan gerak motorik penggunanya sekaligus meningkatkan akurasi ketika menebak. Jika ada mahkluk yang bisa mengalahkan pasukan militer, maka mahkluk itu sangatlah kuat.

Yang jelas, seorang agen dengan nanosuit hanya akan menyerahkan nyawanya jika masuk ke medan tempur seperti ini.

Dada sang agen langsung kembang kempis. Ia berada dalam keraguan. Ia hanya ada dua pilihan. Masuk lebih dalam untuk mendapatkan informasi, atau pergi dari tempat menyeramkan tersebut.

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Tembak!! Cepat tembak!!” Seorang tentara berteriak.

Sang agen berharap mendengarkan suara itu pada awalnya, tapi kini tidak demikian. Teriakan itu bukanlah teriakan kemenangan, melainkan keputusasaan. Seorang agen tidak wajib mengikuti sebuah peperangan. Setidaknya ia harus kembali ke markas dengan membawa informasi.

Iapun membulatkan tekadnya.

Menggunakan mode bunglon pada nanosuit, si agen memberanikan diri untuk mendekati asal suara.
Teriakan pasukan militer sudah tidak terdengar lagi.
Suasana kembali mencekam. Si agen mulai mengintip ke dalam ruangan. Sesosok pria setengan telanjang berdiri di antara mayat pasukan militer. Rambutnya putih, tubuhnya kekar dan ada urat nadinya memancarkan cahaya warna-warni.

Informasi ini sudah lebih dari cukup. Kini waktunya si agen untuk pergi dari tempat menyeramkan ini.

Sebelum ia berpaling, tanpa sengaja si agen menatap mata sosok berambut putih yang tertuju padanya.
Awalnya si agen merasa kalau hal ini hanya kebetulan saja. Namun setelah pria itu mulai berjalan, tubuh si agen mulai gemetar. Ia khawatir mode bunglonnya tidak bekerja, tapi nyata tidak demikian. Pria itu memang bisa melihatnya walau dalam keadaan transparan.

Ia tersentak dan mengucapkan, “Mode kecepatan!”

Mode bunglon dibatalkan dan nanosuit bersinar kebiruan.

Dengan mempercepat gerakan motoriknya, si agen yakin kalau dirinya akan lolos. Namun bayang-bayang kematian terus mengganggu benaknya. Awalnya ia berpikir kalau hal ini hanyalah rasa takutnya yang berlebihan. Hingga ia mendengar suara langkah kaki dari arah belakang. Langkah tersebut makin mendekat dan saat ia menyadari hal itu, tubuh si agen telah terlepar ke dinding. Tangan kiri dan tiga tulang rusuk patah.

Ia sudah tidak mampu untuk bangkit kembali. Hal terakhir bisa ia lihat, pria itu mendekatinya, mengangkat kaki kemudian menginjak kepalanya.

ยง

Malam itu Gwen bangun dengan wajah pucat. Keringatnya mengalir deras dan ia menangis sangat keras. Meski kejadian itu hanya mimpi, pengalaman yang ia rasakan itu seolah nyata. Secara fisik ia tidak mengalami cedera apapun. Namun ia merasakan nyeri yang luar biasa pada tangan dan rusuknya sebelah kiri.

Mimpi buruk tersebut muncul hampir setiap bulan sekali. Mimpinya selalu sama, yaitu berada dalam medan pertempuran dan tewas.
Setelah ia bermimpi, besok pagi, rekan sesama agen akan memberitakan kejadian yang sama. Bedanya tidak ada laporan tentang agen Batavia yang dikirim ke tempat tersebut.

Pada saat mimpi buruk sebelumnya, ia pernah memeriksakan diri pada seorang psikolog. Secara diam-diam, tanpa ada salah satu rekan yang mengetahui. Melalui proses psikoterapi, tidak ditemukan konflik masa lalu yang berpengaruh pada masa sekarang. Hanya ada tekanan batin oleh akibat mimpi buruknya tersebut. Tanpa adanya konflik dimasa lalu, proses psikoterapi tidak mungkin dilanjutkan.

Mungkin masalahnya bukan pada psikis.

Gwen Kirana adalah gadis dengan perawakan lebih dewasa daripada umur aslinya. Umurnya 16 tahun, selalu tersenyum pada siapapun dan suka usil pada rekan sesama agen. Kulitnya kuning langsat dengan rambut dipotong pendek model pria, serta memiliki mata berwarna perak. Tidak bersekolah seperti remaja lainnya dan tinggal di apartemen termahal di Batavia Pusat.

Pagi ini ia memutuskan untuk pergi menemui salah satu rekan ilmuwan di sebuah cafe. Ia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Meski terlambat, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berkonsultasi.

Setibanya di kafe, Gwen mencium aroma harum kopi yang berasal dari lilin. Semua yang ada di sini adalah palsu. Pelanggan hanya datang untuk meminum air putih saja. Rasa kopi yang mereka minum hanyalah halusinasi sensori yang berasal dari bau lilin.

Pria dengan frame kacamata tebal melambaikan tangan ke arahnya. Ia bernama Ricky Welas, penanggung jawab proyek Linx yang baru.

“Selamat pagi, Gwen.”

“Selamat pagi juga.”

Gwen duduk dengan wajah lesu sehingga Ricky terheran. “Ini pertama kalinya kau terlihat seperti ini. Apa kau terlalu banyak senyum hari ini sampai lelah tersenyum?”

“Benarkah?” Gwen agak terkejut. Padahal ia sudah bersikap seperti hari-hari biasa.

Ricky mengawasi Gwen dengan seksama. “Kau benar-benar sedikit berbeda hari ini. Atau ini karena kau tidak pakai make-up hari ini?”

“Mungkin saja.” Gwen memaklumi respon tersebut karena selama ini mereka selalu bertemu dalam acara formal.

“Jadi ada perlu apa kau menemuiku pagi ini?”

Gwen memajukan wajahnya ke arah Ricky. “Saya ingin menceritakan sesuatu padamu, tapi berjanjilah untuk merahasiakannya.”

“Tentu, tapi masalahnya apa?”

“Jadi masalahnya seperti ini …” Gwen bercerita panjang lebar tentang masalahnya tersebut. “Saya benar-benar tidak mengerti. Apa yang sebenarnya saya alami.”

Ricky sedang memikirkan cerita Gwen sebelum menjawab.

“Saya cukup terkejut setelah mendengar ceritamu barusan. Hingga saat ini belum pernah ada laporan semacam itu.” Ricky mengusap dagu lalu lanjutberkata, “Mungkin ini bisa jadi kekuatanmu yang
kedua, kemampuan Astral Projection.”

“Bukankah Astral Projection masih dianggap sebagai pseudo-sciene? Saya tidak ingin dianggap okultis.”

“Masalah itu ilmiah atau semu, ilmuwan seharusnya berpikiran terbuka soal itu. Ini merupakan kebiasaan buruk warga Batavia. Pseudo-sciene atau ilmu semu bisa menjadi sains jika ada yang berhasil membuktikannya.”

“Apa tidak ada kemungkinan lain?”

“Ada kemungkinan hal ini bisa dialami oleh para wanita pada umumnya. Hormon yang mempengaruhi siklus menstruasi terkadang menyebabkan mimpi terasa nyata.”

Jawaban Ricky nampak ragu-ragu sehingga Gwen merasa belum puas. “Jika dikaitkan dengan jangka waktu terjadinya yang hampir sebulan sekali, mungkin itu benar. Apakah tidak ada penyebab lainnya?”

Ricky menghela napas. “Mungkin ada, tapi jangan mempercayainya 100% karena ini ada kaitannya sangat erat dengan proyek Linx.”

Setelah itu Ricky terus memandang mata perak Gwen.

“A-Ada apa?” Gwen agak menundukkan kepala. Meski ia tahu pandangan tersebut tidak memiliki makna tertentu, Gwen yang tidak pernah berpacaran jadi salah tingkah.

“Menurut kabar yang kudengar, kau adalah Linx generasi pertama.”

“Itu benar.”

“Berdasarkan pengamatanku, beberapa Linx generasi pertama mengalami perubahan pada kornea mata. Namun tidak sedikit pula yang gagal sampai mustahil mengikuti proyek Linx generasi dua.
Yang jadi masalahnya di sini adalah resiko dari cangkok DNA itu sendiri. Pencetus proyek ini sebelumnya juga tidak memperkirakan hal tersebut. Kasus yang paling utama adalah overheat, tapi tidak menutup kemungkinan ada resiko lainnya.

Bagaimanapun juga, rekayasa DNA bisa mempengaruhi produksi hormon. Sepertinya kasus menstruasi yang saya paparkan sebelum.
Atau bisa saja kejadian ini disebabkan oleh produksi hormon adrenalin, norepinephrine, dan ortisol yang berlebihan. Tubuhmu sedang mengalami stres namun kau tidak menyadarinya. Akibatnya kau sering mengalami mimpi buruk semacam itu.”

Gwen mendesah. “Saya lelah. Saya tak paham. Apakah bisa disembuhkan?”

“Mungkin kita bisa konsultasikan hal ini pada ahlinya. Kau ada waktu hari ini?”