Ambang Batas 1 – Kanuragan User – Prolog

Novel by Ten Lite Novel.

Ketika Boma hendak menuju rumah kepala desa, seseorang memanggil namanya. Suara itu cukup asing di telinga Boma. Ketika ia membalikkan badan, pria brewok bertopi koboi sedang melambaikan tangan ke arahnya.

“Aryageni?”

Si brewok itu adalah seorang penyihir spesialis serangan api. Ia pindah ke Jawa Timur sejak tiga tahun lalu dan menjadi rekruter di sana.

Bagi Jawa Tengah, peran seorang rekruter tidaklah tergantikan. Hal ini disebabkan karena 7% ibu hamil di Jawa Timur berpotensi melahirkan bayi dengan bakat sihir. Sayangnya mayoritas orang Jawa Timur memandang penyihir sebagai pembawa bencana. Oleh
sebab itu dibutuhkan rekruter untuk mendidik mereka, bakal calon penyihir, supaya tidak menggunakan sihir sembarangan di tanah
kelahirannya sendiri. Setelah cukup dewasa, mereka akan di bawa ke Jawa Tengah, berkumpul bersama penyihir lainnya.

“Yo, apa kabar?”

Boma langsung menghampiri Aryageni untuk bersalaman. “Sudah lama sekali aku tidak berjumpa denganmu? Bagaimana kabarmu di sana?”

“Selalu saja ada masalah,” ucap Aryageni sambil menyeringai. “Kamu sendiri bagaimana? Tampaknya tubuhmu semakin besar dan kekar, sepertinya kamu hidup tenang di sini.”

“Tentu tidak setenang itu. Kota Batavia terus mengembangkan ilmu pengetahuannya hingga di luar batas. Raja Ayodhya juga terus melayangkan kecaman pada presiden kota Batavia. Perang antara
sisi sains dan sisi sihir bisa terjadi kapanpun. Lalu ada maksud apa kamu datang ke sini?”

Tiba-tiba ekspresi Aryageni berubah serius.
“Sedang ada masalah di kota Hero sehingga aku terpaksa pulang untuk meminta petunjuk.”

“Saat ini guru sedang bersemedi, sebaiknya jangan diganggu. Tapi kalau kamu tidak keberatan, memangnya ada masalah apa di kota Hero?”

“Bacalah ini.” Aryageni mengambil surat kabar dari dalam tas.

“Surat kabar?” Boma terheran.

“Ya, ini surat kabar dari kota Hero. Baca saja, nanti kamu juga tahu.”

Boma meraih surat kabar dan mulai membaca headline news.

“Apakah ini tentang pembunuhan berantai?” Boma
menatap Aryageni untuk memastikan. Aryageni mengangguk dan Boma lanjut membaca. “Seorang wanita tanpa identitas ditemukan tewas di daerah Hero Selatan. Terdapat bekas gigitan di bagian leher korban dan penyebab kematiannya adalah kehabisan darah. Hingga saat ini, aparat kepolisian masih melakukan otopsi untuk mencari penyebab lainnya. Berdasarkan ciri-ciri kematiannya, ini sudah korban ketiga.”

Tiba-tiba Boma berhenti membaca.

“Ada apa?” tanya Aryageni. “Kenapa kamu berhenti membaca?”

“Ayolah, apa pentingnya ikut campur dengan masalah orang tewas di kota Hero?

“Ini bukan soal warga kota Hero.” Aryageni menghela napas lalu membuka setengah lembar surat kabar yang masih terlipat. “Apa kamu kenal dengan wanita ini?”

Koran itu sudah kusut sehingga wajah wanita dalam foto tidak terlihat jelas. Namun warna rambut korban yang berwarna violet mengingatkan Boma pada seseorang. Wanita itu bernama Musica, salah satu rekruter juga.

“Apa maksud dari semua ini?” tanya Boma.

“Aku juga tidak mengerti, mengapa penyihir sekelas Musica bisa tewas dengan cara seperti itu. Meski di kota Hero terdapat seorang Extender yang memiliki fisik dua kali manusia sekalipun, kekuatan sihir Musica pasti lebih unggul. Lebih anehnya lagi, selama kita tidak menunjukkan sihir pada orang lain, identitas kita sebagai penyihir tidak akan ketahuan.
Warga kota Hero akan menganggap kita sebagai orang biasa.”

“Lalu bagaimana dengan dua korban sebelumnya?”

“Aku punya firasat kalau mereka juga seorang penyihir.”

Sambil menopang dagunya, Boma mulai menimbang-nimbang masalah yang dihadapi Aryageni. Masala ini harus segera ia kabarkan pada sang guru.

“Baiklah, kita tidak boleh membiarkan masalah ini berlarut-larut. sebaiknya kita temui guru sekarang juga.”

“Baguslah.”

Boma dan Aryageni pergi ke rumah paling besar dengan dinding kayu melingkar. Di dalam rumah tersebut ada pria berumur seratus tahunan dan saat ini ia sedang duduk bersila di udara. kemudian Boma dan Aryageni memasuki rumah sang guru yang merupakan kepala desa, lalu bersujud.

“Guru, maaf sudah mengganggu semedinya. Karena ada berita penting, Boma mohon waktunya sebentar.”

Kepala desa mendarat secara perlahan. Alis matanya yang sudah turun berusaha membuka dan melihat sekitar.

“Ada apa Boma?” tanya kepala desa dengan suara berat. “Oh, ada Aryageni juga rupanya. Ada apa ini?”

“Mohon guru bersedia mendengar cerita saya sejenak,” ucap Aryageni. “Kemarin saya membaca surat kabar dan menemukan berita tentang pembunuhan berantai di kota Hero. Awalnya saya
berpikir kalau itu hanya pembunuhan biasa. Namun setelah melihat korban ketiganya adalah Musica, saya mulai curiga. Mungkin dua korban sebelumnya juga seorang penyihir.”

“Apa kamu yakin?” tanya sang kepala desa.

“Ini firasat,” jawab Aryageni. “Oleh karena itu saya mohon petunjuk dari guru.”

Sang kepala desa membelai janggutnya yang panjang sembari berpikir. Karena tak kunjung ada jawaban, Boma pun mengambil inisiatif.

“Apa mungkin ada pengkhianat di antara para rekruter?”

Sang kepala desa menggelengkan kepala. “Bisa iya, bisa tidak. Sebelum menentukannya, saya ingin kalian mendengarkan sebuah cerita. Ribuan tahun lalu, sebuah catatan tua mengatakan kalau ada
sekelompok penyihir sesat yang menamai dirinya dengan sebutan Aksara. Penyihir Aksara tidak memiliki prana layaknya penyihir umumnya. Mereka bisa merasakan keberadaan penyihir lainnya, tapi
keberadaannya sediri sulit untuk dirasakan. Dalam catatan tersebut tertulis bahwa penyihir Aksara telah musnah namun tidak menutup kemungkinan mereka akan bangkit kembali suatu saat nanti. Awalnya saya sendiri juga tidak percaya dengan cerita itu. Namun belasan tahun yang lalu, di kota yang sama, saya pernah melihat sosok penyihir Aksara. Prana yang dimiliki mereka dipenuhi oleh
kegelapan. Bahkan kekuatannya tidak bisa saya lawan seorang diri. Setelah mereka musnah, para penyihir diusir dari Jawa Timur.”

“Kenapa guru tidak perah menceritakan hal ini pada kami semua?” tanya Aryageni.

“Hal ini terpaksa kami rahasiakan. Kalimat terakhir dalam kitab itu mengatakan bahwa orang yang membaca atau pernah mendengarkan cerita ini berpotensi untuk menjadi salah satu dari mereka.”

“Apakah kejadian yang terjadi belasan tahun silam juga melibatkan orang-orang yang guru kenal?” tanya Boma.

“Tepat seperti yang kau pikirkan. Saat penyihir mulai membunuh sesamanya demi mendapatkan kesaktian lebih, maka saat itulah mereka menjadi bagian dari penyihir Aksara. Namun hingga saat ini kami tidak mengetahui cara kerja aliran magis yang mereka gunakan. Kitab kuno tersebut hanya menjelaskan tentang kegelapan hati seseorang akan menghalangi datangnya cahaya.”

“Apakah ada cara untuk mengalahkan mereka, guru?” Aryageni mulai angkat bicara.

“Mereka hampir mustahil untuk dikalahkan seorang diri bahkan oleh saya sekalipun. Dahulu pernah ada seorang pendekar yang memiliki ilmu sakti yang sanggup menghancurkan segala tenaga magis.
Mereka dikenal sebagai ahli kanuragan, musuh alami para penyihir. Demi mengalahkan penyihir Aksara, kami harus meminjam kekuatannya. Namun di saat-saat terakhir kami tersadar. Mungkin dia satu-satunya ahli kanuragan di tanah Jawa ini.
Keberadaannya adalah ancaman dan oleh sebab itu kami ikut memusnahkannya bersama penyihir Aksara.”

“Apakah kita harus mencarinya lagi, guru?” Boma bertanya.

“Sebaiknya tidak. Walaupun mereka masih ada sekalipun, sebaiknya kita tidak berurusan dengan mereka. Saya harus pergi ke kota Ayodhya untuk mendiskusikannya. Boma, bawalah para penyihir terbaik dan pergilah ke kota Hero. Beritahu mereka tentang ancaman penyihir Aksara namun jangan sampai cerita ini tersebar ke warga desa lainnya.”

“Baik, Guru.”

Setelah memberi hormat, Boma dan Aryageni pergi meninggalkan ruangan.